Tenun Gedhog Tuban Gaungkan Identitas Lokal di Pameran Budaya Ranggalawe Yogyakarta

Editor

Hiburan

Berandaonline.id – Warisan tekstil khas Tuban kembali mencuri perhatian di pentas nasional lewat Pameran Budaya Ranggalawe: Benang Merah Keanekaragaman Bio-Kultural Sandang Nusantara yang digelar di Pusat Desain dan Industri Nasional (PDIN) Yogyakarta, 18–27 Juli 2025.

Pameran ini menjadi puncak dari lebih satu dekade riset dan pendampingan Yayasan Sekar Kawung di berbagai desa Nusantara termasuk Desa Kerek, Kabupaten Tuban. Lewat pendekatan partisipatif lintas generasi, kekayaan tradisi tekstil dihidupkan kembali dalam format edukatif, kontemporer, dan kolaboratif.

Pelaksana tugas Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Perindustrian (Disnakerin) Tuban, Suwito, yang hadir langsung di lokasi, menyebut pameran ini bukan sekadar ajang menampilkan produk tekstil. “Ini tentang merangkai kembali sejarah, jalur perdagangan, dan identitas bio-kultural yang pernah hidup dan kini dibangkitkan kembali,” ujarnya, Jumat (18/7).

Sejak 2021, Yayasan Sekar Kawung bersama Dana Indonesiana Kemenkebud RI dan Maybank Foundation telah mendampingi Kelompok Batik Mawar Biru di Desa Gaji, Kecamatan Kerek. Hasil dari proses pendampingan ini kini dipresentasikan dalam tiga zona utama: Ruang Arsip, Ruang Seni Kontemporer, dan Ruang Bazar.

Nama “Ranggalawe” diangkat dari kata Rangga (merah) dan Lawe (benang), menjadi simbol penghubung narasi budaya dari berbagai penjuru nusantara: mulai dari Sungai Utik (Kalimantan Barat), Lambanapu (Sumba Timur), hingga Kerek (Tuban). Di Ruang Arsip, pengunjung bisa menjelajahi jejak dokumentasi, alat tenun tradisional, dan koleksi kain orisinal dari komunitas dampingan Sekar Kawung.

Salah satu sorotan utama adalah kolaborasi lintas generasi antara 12 Putra-Putri Batik Tuban dan seniman internasional Arahmaiani. Hasil kolaborasi ini menjadi bentuk dialog antara ekspresi kontemporer dan warisan tradisional.

Di Ruang Seni Kontemporer, karya seniman nasional seperti Andi Firda Arifa, Annisa Yuniar, hingga kolaborasi antara Mak Jasmi Mak Suriah dengan pemuda Tuban turut menampilkan interpretasi baru terhadap kain tradisional.

Sementara itu, kain tenun gedhog khas Tuban tampil sebagai material utama dalam berbagai produk inovatif yang dipajang di Ruang Bazar: dari busana modern, boneka kapas, hingga aksesoris ramah lingkungan.

“Tenun ini bukan hanya estetik, tetapi naratif. Ia membawa cerita dari kapas yang ditanam, dipintal, hingga ditenun oleh tangan masyarakat lokal,” ungkap Suwito.

Pameran ini juga menyediakan serangkaian workshop interaktif untuk pengunjung, termasuk:

  • Kelas Tenun (22–24 Juli): pelatihan menenun selama 3 hari.
  • Membuat Boneka Ikan Pari (19 Juli): dari kain gedhog dan bahan alami.
  • Lokakarya Sulam Kambuli (20 Juli): menyulam motif Tuban dengan benang alami.
  • Workshop Daur Ulang Jeans (26 Juli): mengolah denim bekas jadi produk baru.

Setiap hari juga digelar galeri tur untuk pelajar dan masyarakat umum sebagai upaya regenerasi nilai-nilai tekstil tradisional di kalangan muda.

Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Tuban, Aulia Hany Mustikasari, menyampaikan apresiasinya atas kontribusi anak-anak muda Tuban dalam ajang nasional ini. “Bukan hanya batik dan tenunnya yang dibawa ke panggung nasional, tapi juga semangat, ide, dan kualitas SDM-nya,” ucapnya.

Menurut Hany, generasi muda tidak sekadar menjadi pelengkap, tetapi garda depan transformasi budaya yang berkelanjutan. “Mereka membuktikan bahwa usia bukan batasan untuk berkarya. Mereka kreator, bukan hanya pengrajin,” lanjutnya.

Ia menegaskan, Dekranasda Tuban akan terus membuka ruang kreatif bagi generasi muda. “Kita tidak boleh stagnan. Pameran ini adalah bukti nyata bahwa ketika mereka diberi ruang, mereka bisa bersinar.”

Yayasan Sekar Kawung juga menyoroti pentingnya edukasi publik tentang keberlanjutan dan dampak industri sandang modern. Salah satunya dengan kampanye melawan fast fashion dan mendorong penggunaan tekstil alami.

“Ini bukan hanya soal kain, tetapi tentang keberlanjutan, ekologi, dan warisan budaya yang bisa menjadi masa depan,” tutup Suwito.

Dengan kolaborasi antara lembaga publik dan komunitas, tenun gedhog Tuban kini tidak hanya tampil sebagai artefak budaya, tetapi juga simbol identitas dan daya saing SDM lokal di panggung nasional.

Terpopuler

Pengendara Honda Vario Tewas Usai Jatuh Menghindari Jalan Rusak di Tuban

Editor

Beranda Tuban – Kecelakaan lalu lintas tragis terjadi di wilayah hukum Polres Tuban pada hari Jumat pagi, 01 Agustus 2025. ...

Curi Diesel Traktor di Persawahan Tuban, Pelaku Jual Barang Curian Lewat Facebook, 2 DPO Diburu

Editor

Beranda Tuban – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Tuban berhasil mengamankan pelaku pencurian diesel traktor di area persawahan Desa Tengger, ...

Kasus Penipuan Pelunasan Hutang Fiktif dengan SBKKN BRI Tuban, Polisi Tetapkan Dua Tersangka

Editor

Beranda Tuban – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Tuban melalui Unit Tindak Pidana Ekonomi mengungkap kasus penipuan berkedok program pelunasan ...

Parenting KB-RA Muslimat NU Salafiyah Merakurak Tuban: Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua Lindungi Generasi Emas dari Zat Adiktif

Editor

Beranda Tuban – KB-RA Muslimat NU Salafiyah Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban menggelar kegiatan parenting yang bertujuan untuk memberikan edukasi bagi ...

Rotasi Besar di Pemkab Tuban, 8 Pejabat Tinggi Dilantik Mas Lindra Hari Ini

Editor

Beranda Tuban – Suasana Pendapa Kridha Manunggal, Kamis (31 Juli 2025), terasa khidmat saat Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky, memimpin ...

Kecelakaan Maut di Rengel Tuban, Pengendara Asal Bojonegoro Meninggal di Puskesmas

Editor

Beranda Tuban – Kecelakaan lalu lintas tragis terjadi pada Rabu pagi sekitar pukul 06.45 WIB di Jalan Pakah-Soko, Desa Maibit, ...

Tinggalkan komentar