Berandaonline.id – Di balik tanah gersang berkapur Desa Ngampel, Blora, yang dulunya tak berdaya menumbuhkan tanaman pangan, kini tumbuh semangat emansipasi ekologis. Program Bumi Kartini akronim dari Buah Manis Karya Wanita Tani menjadi penanda perubahan yang dijalankan oleh PT Semen Gresik, anak usaha PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG), bekerja sama dengan pemerintah desa setempat.
Program yang digagas sejak 2021 itu bukan sekadar penghijauan halaman atau proyek pendampingan pertanian skala rumah tangga.
Ia adalah proyek perubahan sosial yang meletakkan perempuan sebagai pusat penggerak ekonomi sirkular sekaligus agen konservasi lingkungan.
Baca Juga:
“Dulu bagaimana mau ditanami sayuran, tanahnya saja gersang dan mengandung kapur,” tutur Nikmatus Zahroatin, Ketua PKK Desa Ngampel sekaligus Koordinator Program Bumi Kartini.
Ia mengisahkan bahwa halaman-halaman rumah warga dulunya menganggur. Tidak produktif. Kini, lewat penyediaan media tanam, pelatihan intensif, dan pendampingan dari Semen Gresik, pekarangan itu menjelma menjadi sumber pangan sekaligus penghasilan.
Buahnya terasa. Per bulan, lebih dari 1.400 kilogram sayuran berhasil dipanen dari 9,3 hektare pekarangan rumah warga. Sayur-mayur seperti kubis, wortel, pakcoy, hingga markisa bukan hanya memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga, tetapi juga diolah menjadi produk turunan seperti kripik terong dan sirup markisa, lalu dipasarkan keluar desa.
Namun transformasi tak berhenti di situ. Bumi Kartini juga berani masuk ke ranah persoalan pelik di Ngampel: pencemaran air oleh limbah ternak.
Anak Sungai Lusi, sumber air utama warga, selama ini menanggung limbah kotoran sapi yang dibuang begitu saja oleh peternak. Akibatnya, air menjadi tak layak pakai dan memicu emisi gas metana.
PT Semen Gresik bersama BUMDes, Posyantek, dan kelompok perempuan kemudian menginisiasi pengelolaan kotoran sapi menjadi pupuk kompos dan biourin.
Hasil olahan ini digunakan kembali di lahan pertanian warga, dijual, sekaligus menjadi bahan edukasi ekologis bagi komunitas.
Bank sampah juga didirikan dan terintegrasi dalam sistem pengelolaan sampah dan energi alternatif perusahaan.
Dari pendekatan ini, tercatat limbah kotoran sapi berkurang hingga 98,2 ton pada 2024. Emisi gas metana yang berhasil ditekan mencapai 1,64 ton CO2 ekuivalen per tahun.
Ini bukan sekadar angka, melainkan representasi dari keberhasilan warga desa dalam menghadapi krisis lingkungan dengan pendekatan gotong royong dan ilmu terapan.
Lebih jauh, keberhasilan ini menunjukkan bahwa program CSR yang sering dituding simbolis dapat menjelma menjadi praktik emansipasi dan transformasi jika dirancang kontekstual. Bumi Kartini, dalam hal ini, menjadi contoh konkret.
Menurut Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, program ini menempatkan perempuan sebagai penggerak sirkularitas ekonomi sekaligus penjaga lingkungan. “Program ini dikembangkan dengan prinsip pemberdayaan untuk penyelesaian masalah,” ujarnya.
Data menunjukkan, setiap anggota kelompok Bumi Kartini kini mampu menambah penghasilan hingga Rp6,48 juta per tahun. Warga yang terlibat dalam pengolahan limbah ternak bahkan memperoleh tambahan pendapatan Rp4,8 juta.
Sementara itu, penghematan belanja rumah tangga dari hasil panen sayur dan pupuk mencapai lebih dari Rp17 juta per keluarga per tahun.
Apa yang dirintis di Ngampel bukan sekadar gerakan tanam sayur atau bank sampah desa. Ini adalah narasi alternatif tentang bagaimana pembangunan bisa dimulai dari pinggiran, dari halaman rumah, dari perempuan-perempuan yang selama ini tersembunyi dalam struktur desa.
Dan bagaimana perusahaan negara bisa, ketika punya niat dan arah yang jelas, menjadi bagian dari solusi struktural, bukan sekadar pelengkap simbolik.
Bumi Kartini menunjukkan bahwa perubahan tidak harus datang dari pusat. Ia bisa tumbuh dari tanah kapur yang tandus, dari sungai yang tercemar, dan dari tangan-tangan yang sebelumnya dipinggirkan.
















