Beranda Rembang – Di tengah gelombang industrialisasi dan krisis identitas pangan lokal, sekelompok ibu rumah tangga di Desa Glebeg, Kecamatan Sulang, Kabupaten Rembang membuktikan bahwa ekonomi kerakyatan masih bisa tumbuh dari akar rumput.
Melalui Kelompok Wanita Tani (KWT) Annisa, mereka mengolah tanaman herbal dari pekarangan menjadi produk kesehatan yang kini merambah pasar nasional.
Dengan modal awal Rp500 ribu, usaha yang dirintis pada 2017 ini kini mencatat omzet tahunan hingga Rp100 juta.
Baca Juga:
Mereka tidak hanya menjual minuman jahe, temulawak, dan sari buah kawis, tetapi juga menawarkan narasi lain bahwa kemandirian ekonomi perempuan desa bukan mimpi yang jauh.
Rutiah, Ketua KWT Annisa, tak pernah menyangka dapur sederhana mereka akan membawa perubahan besar.
“Awalnya hanya ingin hasil panen tidak mubazir,” ujarnya, Minggu (27/7).
Namun sejak 2022, keterlibatan mereka dalam program pembinaan Rumah BUMN Rembang inisiatif dari PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) yang dikelola oleh PT Semen Gresik membuka banyak pintu baru.
Tak sekadar memberi pelatihan, RB Rembang juga mendorong KWT Annisa untuk naik kelas, memperkuat manajemen usaha, memperkenalkan konsep branding, dan menjalin jejaring pemasaran.
Dengan produksi rutin mencapai 100 botol per minggu, KWT Annisa kini menyuplai pasar di Semarang, Surabaya, hingga Kalimantan lewat jalur e-commerce dan reseller.
Bagi SIG, program ini bukan sekadar CSR. Menurut Corporate Secretary SIG, Vita Mahreyni, penguatan peran perempuan adalah bagian dari strategi keberlanjutan perusahaan.
“Kami percaya perempuan adalah penggerak ekonomi lokal. SIG berkomitmen mendampingi UMKM, terutama yang dipimpin perempuan, untuk mandiri dan berdaya saing,” ujarnya.
Namun kisah KWT Annisa juga menyimpan ironi. Ketika sektor informal kerap luput dari perhatian kebijakan negara, para ibu ini justru menunjukkan bahwa dengan sedikit dukungan, sektor kecil mampu bertahan, bahkan melesat.
Dalam sistem ekonomi yang kerap mendewakan skala besar dan teknologi tinggi, keberhasilan KWT Annisa menjadi pengingat transformasi ekonomi bisa dimulai dari tangan-tangan yang selama ini terpinggirkan.
Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah UMKM seperti KWT Annisa bisa berkembang, tetapi apakah negara bersedia memberi ruang lebih luas bagi inisiatif serupa.
Sebab dalam semangat yang mereka bangun, tersimpan benih kedaulatan pangan dan ekonomi yang sesungguhnya. (*)
















