Beranda Tuban – Malam belum larut ketika halaman Kantor Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tuban, Jawa Timur, mendadak dipenuhi lalu lalang petugas berbaju seragam, alat pelindung, dan sirene kendaraan darurat.
Tak ada bencana nyata malam itu hanya simulasi. Tapi suasananya serius. Karena yang dilatihkan adalah skenario paling buruk kegagalan teknologi di sumur minyak.
BPBD Tuban bersama PT Pertamina Hulu Energi Tuban East Java menggelar latihan tanggap darurat bertajuk Table Top Exercise (TTX) pada Kamis malam, 31 Juli 2025.
Baca Juga:
Sebanyak 200 personel gabungan mulai dari TNI, Polri, relawan, hingga warga dilibatkan dalam simulasi yang digelar di tengah kekhawatiran akan potensi bahaya kebocoran dan semburan gas dari infrastruktur migas.
“Ini bukan sekadar latihan. Ini simulasi bagaimana kita bertahan jika skenario terburuk benar-benar terjadi,” kata Sudarmaji, Kepala Pelaksana BPBD Tuban.
Skenario utama dalam latihan ini adalah kebocoran dan ledakan pada sumur Mudi 22 ST2, salah satu titik eksplorasi milik Pertamina Hulu Energi. Jika gagal dikendalikan, semburan dari sumur migas seperti ini dapat memicu kebakaran hebat, keracunan gas, pencemaran udara dan tanah, hingga eksodus warga dari permukiman terdampak.
Desa Rahayu, Kecamatan Soko, dipilih sebagai lokasi fokus latihan karena berada di wilayah dengan potensi dampak langsung dari operasi migas. Warga dilatih evakuasi, komunikasi darurat, serta prosedur tanggap awal.
Kehadiran masyarakat sipil dalam latihan ini menandakan satu hal bencana bukan hanya urusan aparat, tetapi semua orang.
Menurut Joko Sarwono, Wakil Bupati Tuban yang hadir memimpin apel pembukaan, kegiatan ini merupakan bagian dari penguatan sistem tanggap darurat di kawasan industri.
“Kita ingin memastikan bahwa semua pihak, baik pemerintah, perusahaan, maupun masyarakat, memahami tugas masing-masing dalam situasi krisis,” ujarnya.
Pertamina, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas wilayah operasi, menegaskan bahwa latihan ini adalah bagian dari komitmen terhadap K3LL (Keselamatan, Kesehatan Kerja, dan Lingkungan).
“Latihan ini memberi manfaat strategis: kesiapan tim, evaluasi prosedur, hingga perlindungan masyarakat,” ungkap Nanang Nasarudin Yusuf, Manager Pertamina Hulu Energi Tuban East Java-Randugunting Field.
Ia juga menyebut latihan berkala menjadi indikator bahwa perusahaan tidak hanya mengutamakan produksi, tetapi juga aspek keselamatan dan keberlanjutan lingkungan hidup.
Tuban bukan wilayah asing bagi industri migas. Sejumlah sumur eksplorasi dan infrastruktur energi berdiri tak jauh dari permukiman. Maka, kesiapan menghadapi bencana industri bukan sekadar formalitas administratif. Ini soal waktu dan respons.
Dalam konteks nasional, Pemerintah Indonesia terus mendorong investasi di sektor energi. Tapi kesiapsiagaan sering kali tertinggal dibanding pembangunan.
Studi Puslitbang BPBD Jawa Timur 2023 menunjukkan bahwa sebagian besar daerah industri belum memiliki sistem mitigasi kegagalan teknologi yang benar-benar operasional dan melibatkan masyarakat. (*)
















