Beranda Tuban – Diskusi dengan gaya yang tak biasa digelar Gerakan Tuban Menulis (GTM) pada Sabtu (22/8/2025) malam. Mengusung tema “Meneropong Kemerdekaan dari Tuban,” forum bertajuk Ghibah Kebangsaan ini berlangsung di Kopi Taman, Kelurahan Gedongombo, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, dan diikuti puluhan peserta dari beragam kalangan.
Menggunakan istilah “ghibah” sebagai pendekatan, forum ini justru menjadi ruang kritik terbuka terhadap kondisi bangsa, khususnya menjelang momentum Hari Kemerdekaan RI.
“Saya bukan orang akademisi, tapi saya ingin membuka pikiran mereka. Karena hari ini ilmuwan sudah lupa pada buminya,” tegas Mutholibin atau akrab disapa *Bung Bin, saat membuka forum.
Baca Juga:
Ia menyentil bagaimana pembangunan infrastruktur saat ini dinilai hanya menjadi keuntungan bagi segelintir pihak. Dalam diskusi yang penuh semangat tersebut, Bung Bin juga mempertanyakan arti kemerdekaan di tengah kondisi rakyat yang belum sejahtera.
“Kalau hari ini pemerintah tidak transparan dan tidak mensejahterakan rakyat, apakah ini yang dinamakan kemerdekaan?” ujarnya lantang.
Bung Bin menyoroti masalah kemiskinan yang menjadi pemicu berbagai persoalan sosial, termasuk kekerasan di kalangan muda. Menurutnya, bukan moral yang bermasalah, tapi jerat kemiskinan yang belum terselesaikan.
Turut hadir sebagai pemantik diskusi, kolumnis Tuban Ahmad Atho’illah, yang menyampaikan kritik terhadap pola pengelolaan anggaran oleh pemerintah.
“Pemerintah tidak pernah benar-benar transparan dalam mengelola anggaran. Kita hanya mendengar target pendapatan negara, tapi tidak pernah tahu ke mana arah peruntukannya,” kata Atho’.
Ia menilai bahwa pejabat publik terlalu sulit mengakui kegagalan, seolah itu adalah aib besar yang tidak boleh diketahui masyarakat. Akibatnya, kebijakan yang dihasilkan cenderung melayani kepentingan pribadi atau golongan semata.
“Jika kebijakan pemerintah tidak berhasil, maka hanya condong pada visi pribadi pemimpin, bukan kebutuhan dasar rakyat,” tegasnya.
Forum Ghibah Kebangsaan ini pun menjadi ruang alternatif untuk menjaga kewarasan publik di tengah situasi sosial-politik yang dinilai membingungkan.
Para peserta diingatkan untuk kembali merefleksikan arti kemerdekaan secara substansial bahwa negara semestinya hadir untuk rakyat.
“Negara kita hari ini mengalami krisis luar biasa. Tapi para tokoh intelektual dan guru bangsa diam. Padahal kemerdekaan itu sejatinya adalah saling mengontrol dan memberikan masukan terhadap negara,” pungkas Bung Bin. (*)
















