Beranda Tuban – Sebagai bentuk kepedulian terhadap sektor pertanian dan peternakan, serta mendukung program pemerintah pusat dalam pemenuhan kebutuhan pangan dan protein hewani, PLTU Tuban menyalurkan bantuan mesin penggilingan “Hammer Mill” kepada kelompok masyarakat Ring 1.
Bantuan ini diberikan dalam rangka program Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan, Minggu (21/9/2025).
Kabupaten Tuban dikenal sebagai salah satu sentra jagung nasional. Sepanjang tahun 2024, wilayah ini mencatatkan produksi jagung hingga 767.134 ton dari lahan seluas 133.857 hektar.
Baca Juga:
Di balik tingginya produksi tersebut, limbah pertanian seperti janggel (tongkol) dan tebon (jerami) jagung menjadi tantangan tersendiri bagi lingkungan.
“Selama ini, limbah pertanian jagung sering dianggap tidak berguna dan hanya dibakar di lahan, padahal ini menghasilkan emisi gas rumah kaca yang tinggi. Kini limbah ini bisa dimanfaatkan menjadi biomassa untuk co-firing di PLTU atau dijadikan pakan ternak,” ujar Yunan Kurniawan, Senior Manager PLTU Tuban, saat penyerahan bantuan.
Mesin Hammer Mill yang diberikan PLTU Tuban memiliki kapasitas produksi hingga 2 ton per jam. Mesin ini mampu menggiling limbah jagung menjadi bahan baku pakan ternak atau sumber energi alternatif yang ramah lingkungan.
Menurut Yunan, pengelolaan limbah pertanian secara optimal bisa menjadi solusi untuk menciptakan pertanian berkelanjutan dan mendukung program Net Zero Emission (NZE).
“Dengan memanfaatkan limbah produksi jagung, kita tidak hanya mengurangi emisi karbon secara global, tetapi juga mendorong penggunaan energi baru terbarukan dari sektor pertanian,” tambahnya.
Tak sekadar memberikan mesin, PLTU Tuban juga menyiapkan pelatihan teknis kepada kelompok masyarakat penerima bantuan. Mulai dari operasional, perawatan, hingga aspek keselamatan kerja akan diberikan agar mesin bisa dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.
Diharapkan, bantuan ini bisa membuka peluang ekonomi baru bagi petani, terutama dalam meningkatkan nilai tambah dari limbah pertanian yang selama ini terbuang sia-sia.
“Ini bukan hanya tentang bantuan alat, tapi bagaimana petani bisa mandiri dan memaksimalkan potensi limbah jagung menjadi sesuatu yang bermanfaat dan bernilai ekonomi,” tutup Yunan. (*)
















