Beranda Semarang – Upaya membangun kesadaran publik soal pentingnya sektor energi tidak bisa dilakukan sendirian. Hal itu disadari betul oleh SKK Migas wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara (Jabanusa) yang menggandeng media sebagai mitra strategis, termasuk dalam pemanfaatan teknologi Artificial Intelligence (AI) di dunia jurnalistik.
Dalam kegiatan Engagement Day bersama para pemimpin redaksi yang digelar 7–8 Oktober 2025 di Semarang, SKK Migas Jabanusa menegaskan bahwa media punya peran sentral dalam menyebarkan informasi seputar industri hulu migas secara berimbang dan mudah dipahami masyarakat.
Kepala Perwakilan SKK Migas Jabanusa, Anggono Mahendrawan, menyebut literasi energi menjadi bagian penting dari ketahanan energi nasional. Karena itu, menurutnya, kerja sama erat dengan media bukan hanya soal publikasi, tapi membangun komunikasi dua arah yang sehat dan berkelanjutan.
Baca Juga:
“Media telah menjadi mitra strategis kami dalam mengedukasi masyarakat. Dukungan dan solidaritas rekan-rekan media membuat industri hulu migas semakin dikenal manfaatnya bagi ketahanan energi nasional,” ujar Anggono dalam sambutannya.
Yang menarik, lokakarya ini juga membahas penggunaan AI dalam dunia media. Dalam Sesi I yang diisi oleh Komisi Pengaduan dan Penegakan Etika Dewan Pers, Muhammad Jazuli, para peserta diajak memahami pedoman penggunaan AI di media massa, termasuk etika dan tantangan mediasi antara media dan publik.
Diskusi seputar AI ini menjadi sangat relevan di tengah transformasi digital dan disrupsi model bisnis media. Dalam Sesi II, pakar media dan komunikasi, Riza Permadi, memaparkan bagaimana media perlu membangun bisnis model baru yang adaptif terhadap lanskap digital, termasuk integrasi AI secara bijak.
Menurut Anggono, literasi energi hanya bisa terbangun jika semua pihak industri, pemerintah, dan media berjalan beriringan, termasuk dalam menghadapi tantangan digitalisasi.
“Keberlangsungan industri migas tidak hanya soal teknologi atau investasi besar. Lebih dari itu, seberapa kuat komunikasi kita dengan masyarakat menentukan masa depan sektor ini,” jelasnya.
Salah satu peserta asal Bojonegoro, Sasmito, mengapresiasi materi yang disampaikan dalam lokakarya, khususnya soal peran AI dalam media dan strategi adaptasi menghadapi perubahan zaman. Ia menyebut acara kali ini jauh lebih dinamis dibanding sebelumnya.
“Di era disrupsi ini, materi seperti ini sangat dibutuhkan. Apalagi pembahasannya cukup hangat tapi tetap menarik,” ungkapnya.
SKK Migas berharap hubungan dengan media tidak sekadar sebagai penyampai informasi, tapi menjadi kolaborasi jangka panjang untuk memperkuat literasi energi berbasis data, teknologi, dan jurnalisme sehat.
“Kami percaya, melalui jurnalisme yang sehat, masyarakat dapat memahami tantangan dan peluang sektor hulu migas. Karena itu, kami sangat menghargai peran media,” tutup Anggono. (*)
















