Beranda Lamongan – Sebanyak 45 guru SMA/K negeri swasta yang terbagi dua lokus di Kabupaten Lamongan mengikuti rangkaian kegiatan pelatihan Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) mulai In-1, OJT hingga tahap In-Service Training 2 (In-2).
Terhitung sudah berjalan 4 bulan guru digembleng oleh tim fasilitator dari Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI dan Lembaga Penyelenggara Diklat (LPD) Yale Communication, Ikhwan Fahrudin dan M. Satria Pinandita A.
Kegiatan yang berlangsung di SMAN 2 Lamongan ini merupakan bagian dari program inisiatif Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) bekerja sama dengan Lembaga Penyelenggara Diklat (LPD) Yale Communication. Yang menjadi salah satu program prioritas Menteri Abdul Mu’thi saat ini.
Baca Juga:
Pelatihan ini dirancang untuk mengakselerasi kemampuan digital para pendidik di Lamongan, mempersiapkan mereka untuk mengintegrasikan koding dan prinsip-prinsip KA ke dalam kurikulum pembelajaran sehari-hari di sekolah.
Kegiatan In-2 ini merupakan kelanjutan dari rangkaian pelatihan yang telah dimulai sebelumnya. Setelah menyelesaikan tahap In-Service Training 1 (In-1) dan periode On-the-Job Learning (OJL) di sekolah masing-masing, para peserta kembali berkumpul untuk pendalaman materi, evaluasi implementasi, dan pemecahan masalah.
Plt. Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Lamongan Mustakim hadir membuka acara, menyampaikan apresiasinya. “Di era digital ini, koding bukan lagi sekadar keahlian teknis, tetapi sebuah literasi baru. Kami berterima kasih kepada Kemendikdasmen dan LPD Yale Communication karena telah memilih Lamongan sebagai lokasi program strategis ini,” ujarnya dalam sambutan.
Pihaknya akan mendata guru-guru yang telah mengikuti pelatihan ini dan dinyatakan lulus untuk bisa mengembangkan kompetensinya. Bisa mengimbaskan atau berbagi praktik baik ke rekan guru lainnya. Biar semakin massif, karena program ini salah satu prioritas dari pemerintah, tandasnya saat penutupan program.
“Jangan berhenti, Continuous learning, mampu mengoperasikan TIK terbaru untuk diajarkan ke anak didik di sekolah. Bapak ibu yang ikut kegiatan ini termasuk guru yang beruntung karena bisa langsung dilatih oleh tim fasil yang telah lulus uji”, kata pejabat asal Lamongan ini.
Berbeda dengan sesi In-1 yang berfokus pada pengenalan konsep, sesi In-2 di SMAN 2 Lamongan ini lebih menekankan pada praktik dan pengembangan proyek. Para peserta, yang terdiri dari guru-guru dari berbagai jenjang dan mata pelajaran, dibagi ke dalam beberapa kelompok lokakarya (workshop).
Para fasilitator dari LPD Yale Communication memandu peserta dalam sesi praktik lanjutan, seperti: Pengembangan aplikasi pembelajaran sederhana (misalnya, menggunakan platform block-based coding).
Pengenalan dasar-dasar machine learning untuk media ajar interaktif. Presentasi hasil proyek OJL yang telah diterapkan di sekolah. Gamifikasi pembelajaran dan pengerjaan tugasan di LMS.
“Pada tahap In-2 ini, kami mendorong para guru untuk beralih dari ‘bisa’ menjadi ‘mahir’,” ungkap Ikhwan Fahrudin, selaku perwakilan trainer dari LPD Yale Communication. “Fokusnya adalah bagaimana proyek koding sederhana atau pemanfaatan KA yang telah mereka rancang dapat memecahkan masalah nyata di kelas mereka, baik itu untuk administrasi maupun untuk meningkatkan antusiasme belajar siswa”, ungkapnya.
Sedangkan Satria Pinandita menyampaikan dasar koding dari materi dasar koding, konsep dasar pemrograman, bahasa dan alat koding, untuk pemula (tingkat dasar): unplugged activity, bahasa pemrograman visual, untuk tingkat lanjut (menengah dan atas: python dan javascript, jelasnya.
Suasana pelatihan berlangsung dinamis dan interaktif. Para peserta tampak antusias mempresentasikan hasil karya mereka selama OJL dan mendapatkan umpan balik langsung dari fasilitator serta rekan-rekan mereka.
Anugrah Dewi Mahatmawati, seorang guru dari SMKS PGRI SUKODADI peserta, mengaku mendapatkan banyak pencerahan.
“Awalnya kami mengira Koding dan KA itu rumit dan hanya untuk guru TIK. Ternyata di pelatihan ini kami diajarkan cara sederhana menggunakannya untuk membuat kuis interaktif. Di sesi In-2 ini, kami jadi lebih percaya diri untuk mengembangkannya lebih lanjut,” tuturnya.
Pelatihan ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem digital yang lebih kuat di 45 sekolah peserta. Setelah sesi In-2 berakhir, para peserta akan kembali ke sekolah masing-masing untuk melanjutkan tahap OJL berikutnya, sebelum akhirnya bertemu di sesi In-2 untuk evaluasi akhir program. Peserta yang dinyatakan lulus akan mendapatkan sertifikat 180 JP. (*)
















