Beranda Surabaya – Kesadaran masyarakat terhadap kualitas energi nasional kembali mendapat sorotan. Badan Koordinasi Himpunan Mahasiswa Islam (BADKO HMI) Jawa Timur menyatakan dukungan penuh terhadap penguatan literasi energi nasional, khususnya terkait transparansi dan inovasi produk bahan bakar dari Pertamina Patra Niaga.
Ketua Umum BADKO HMI Jatim, M. Yusfan Firdaus, menegaskan bahwa pemahaman publik mengenai kualitas bahan bakar harus menjadi bagian penting dari pendidikan energi di Indonesia.
“Kita tidak bisa berbicara tentang kedaulatan energi tanpa kesadaran rakyat terhadap kualitas dan proses distribusi bahan bakar yang mereka gunakan,” ujar Yusfan.
Baca Juga:
“Masyarakat perlu memahami, mengawasi, dan mendukung langkah-langkah perbaikan yang dilakukan Pertamina Patra Niaga.”Dalam beberapa bulan terakhir, Pertamina Patra Niaga melakukan investigasi internal menyeluruh untuk memastikan kualitas BBM di seluruh SPBU.
Langkah ini, menurut Yusfan, merupakan bentuk nyata tanggung jawab perusahaan terhadap masyarakat dan lingkungan.
“Kualitas layanan energi adalah persoalan moral publik. Ketika Pertamina Patra Niaga terbuka terhadap keluhan konsumen dan memperbaiki sistem distribusi secara transparan, itu menandakan adanya semangat baru dalam tata kelola energi nasional,” tambahnya.
BADKO HMI Jatim juga memberikan dukungan terhadap program edukasi bioetanol yang digagas Pertamina Patra Niaga. Energi ramah lingkungan ini dianggap sebagai bagian dari komitmen nasional menuju Net Zero Emission 2060.
“Bioetanol dan energi hijau adalah masa depan. Tapi masa depan itu hanya bisa dicapai jika masyarakat memahami prosesnya,” tegas Yusfan.
Komitmen Pertamina Patra Niaga dalam menghadirkan energi bersih diwujudkan melalui produk Pertamax Green 95, yang telah dipasarkan selama dua tahun dengan kandungan 5% bioetanol (E5).
Produk ini menggunakan bahan baku lokal dari tetes tebu (molase) yang diolah menjadi bioetanol fuel grade oleh pemasok di Mojokerto, Jawa Timur.
Pj. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, menjelaskan bahwa Pertamax Green 95 adalah campuran bahan bakar fosil dengan etanol nabati dari tebu yang lebih ramah lingkungan.
“Pertamax Green 95 mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil sekaligus memperkuat sektor agro-industri nasional,” ujarnya.
Hingga kini, 170 SPBU di Pulau Jawa telah memasarkan Pertamax Green 95, mencakup wilayah Jabodetabek, Tangsel, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Jawa Timur. Masyarakat pun semakin mudah menemukan bahan bakar berkinerja tinggi yang sekaligus peduli pada bumi.
BADKO HMI Jatim menegaskan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, kampus, dan pemerintah dalam membangun literasi energi nasional.
Publik yang cerdas dan aktif mengawasi akan menjadi mitra strategis bagi Pertamina Patra Niaga dalam menjaga kualitas, akuntabilitas, dan keadilan energi nasional. (*)
















