Beranda Tuban – Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Kabupaten Tuban menggelar tasyakuran atas penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada tiga tokoh besar asal Jawa Timur di kantor DPC setempat, Rabu malam (12 November 2025).
Ketiga tokoh tersebut adalah Presiden ke-4 RI K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Syaikhona Muhammad Kholil dari Bangkalan ulama kharismatik dan mahaguru para kiai Nahdlatul Ulama serta Marsinah, aktivis buruh perempuan yang gugur memperjuangkan keadilan sosial.
Tasyakuran berlangsung penuh khidmat di lantai dua kantor DPC PKB Tuban. Kegiatan diisi dengan tahlil, pembacaan sholawat, dan doa bersama, dihadiri oleh jajaran DPC PKB Tuban, PCNU Tuban, serta badan otonom di bawahnya.
Baca Juga:
Acara ini juga bertepatan dengan peringatan Hari Jadi Kabupaten Tuban ke-732, menambah nuansa syukur atas perjalanan panjang sejarah daerah dan bangsa.
Ketua DPC PKB Tuban H. Miyadi, S.Ag., M.M., yang juga menjabat Wakil Ketua DPRD Tuban, menegaskan bahwa ketiga tokoh tersebut merupakan figur panutan yang mengajarkan nilai keberanian, keikhlasan, dan perjuangan tanpa pamrih.
“Syaikhona Kholil adalah mahaguru NU, hampir semua masyayikh NU adalah murid beliau. Gus Dur pendiri PKB dan simbol pluralisme bangsa. Sedangkan Marsinah, pejuang buruh yang teguh membela keadilan,” ujar Miyadi.
Ia menilai penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Gus Dur dan Syaikhona Kholil tidak menimbulkan perdebatan, sebab kiprah keduanya telah diakui secara luas oleh bangsa Indonesia.
“Gus Dur adalah bapak bangsa yang memperjuangkan kemanusiaan lintas golongan. Begitu juga Syaikhona Kholil, sosok ulama pejuang yang menjadi inspirasi bagi seluruh umat,” tambahnya.
Dalam sambutannya, Miyadi juga mengingatkan akar historis PKB yang lahir dari rahim Nahdlatul Ulama (NU) pada 23 Juli 1998.
Sebagai partai yang didirikan oleh para kiai dan ulama NU, ia menegaskan bahwa PKB memiliki kewajiban moral untuk berkhidmat kepada NU melalui jalur kebijakan publik dan perjuangan politik yang berpihak kepada umat.
“PKB adalah anak kandung NU. Cara kita berkhidmat adalah melalui perjuangan politik yang membawa kemaslahatan masyarakat,” tegas Miyadi.
Ia juga menyinggung para deklarator PKB seperti KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur), KH. Ilyas Ruchiyat, KH. Muchit Muzadi, KH. Munasir Ali, dan KH. A. Mustofa Bisri, yang telah menunjukkan bagaimana nilai-nilai keulamaan bisa dijalankan dalam politik yang santun dan beretika.
Sementara itu, Ketua PCNU Tuban KH. Damanhuri yang turut hadir menyebut bahwa penganugerahan gelar Pahlawan Nasional bagi Syaikhona Muhammad Kholil dan Gus Dur merupakan bukti nyata peran besar NU dalam sejarah bangsa, dari masa perjuangan kemerdekaan hingga era reformasi.
“Kita patut bersyukur dan meneladani perjuangan mereka. Mereka berjuang bukan hanya untuk NU, tetapi untuk bangsa dan kemanusiaan,” ujar Kyai Daman.
Menurutnya, dengan penambahan dua tokoh tersebut, jumlah pahlawan nasional dari kalangan NU kini bertambah menjadi 16 orang.
“Dari masa Syaikhona Kholil, KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah, hingga Gus Dur, perjuangan mereka menunjukkan kesinambungan nilai-nilai keulamaan dalam menjaga keutuhan bangsa,” tambahnya.
Kyai Daman juga mengajak warga NU dan kader PKB untuk meneladani semangat perjuangan para tokoh tersebut dalam konteks kekinian, di tengah tantangan moral dan sosial yang semakin kompleks.
“Perjuangan mereka bukan hanya di medan perang, tetapi dalam membangun akhlak, pendidikan, dan keadilan sosial. Nilai-nilai itu yang harus kita warisi,” tegasnya.
Bagi Kyai Damanhuri, sinergi NU dan PKB harus terus diperkuat demi meneruskan cita-cita besar para ulama pendiri bangsa, yakni menegakkan keadilan sosial dan kemaslahatan umat.
Acara tasyakuran ini juga menjadi momen refleksi bagi kader NU dan PKB setelah Presiden Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada ketiga tokoh tersebut pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2025 di Jakarta. (*)
















