Beranda Tuban – Ronggolawe Press Solidarity (RPS) kembali menggelar Pelatihan Jurnalisme Kekinian, kali ini menyasar para mahasiswa dari IIKNU, Unirow, dan STIE Muhammadiyah Tuban.
Namun berbeda dari pelatihan jurnalistik konvensional, kegiatan ini menekankan bagaimana konten media kini tak hanya ditopang kemampuan menulis, tapi juga pemahaman algoritma platform digital dan perilaku audiens dua kunci yang menentukan apakah sebuah informasi sampai ke pembaca atau tenggelam di linimasa.
Dalam dunia berita online, algoritma media sosial dan mesin pencari kini berperan seperti “editor kedua”. Konten yang relevan, konsisten, dan memenuhi indikator keterlibatan (engagement) akan lebih mudah diangkat platform.
Baca Juga:
Ketua RPS Khoirul Huda menegaskan bahwa inilah alasan jurnalisme kekinian harus dipahami mahasiswa lintas prodi.
“Jurnalisme bukan hanya menyampaikan informasi, tetapi menjalankan fungsi edukasi, hiburan, dan kontrol sosial. Mahasiswa dari berbagai latar belakang bisa memperkaya pemberitaan,” jelasnya.
Dengan bekal ilmu kesehatan, ekonomi, dan pendidikan, mahasiswa dapat menciptakan konten yang niche, yang saat ini sangat disukai algoritma karena lebih mudah menemukan audiens yang tepat.
Misalnya, mahasiswa kesehatan IIKNU bisa menyajikan isu kesehatan dalam format informatif tetapi mudah dicerna gaya konten yang terbukti disukai audiens muda dan sering mendapatkan boost algoritmik.
RPS menekankan bahwa perilaku konsumsi berita kini dikuasai Gen-Z, generasi yang tidak lagi membaca berita secara tradisional, tetapi melalui short video, carousel, thread, hingga duet konten edukatif.
“Gen-Z dengan konten-kontennya bisa mempengaruhi masyarakat. Maka harus tahu bagaimana bermedsos yang bijak dan bisa membedakan hoaks,” tegas Huda.
Pemahaman perilaku audiens ini penting agar kampus mampu mengelola pesan yang tak hanya informatif, tetapi juga format-friendly dengan preferensi pengguna.
RPS juga mendorong tiap kampus membentuk lembaga pers mahasiswa agar kreativitas dan literasi media bisa berkembang. Menurut Huda, pers kampus menjadi ruang latihan nyata bagi mahasiswa sekaligus sarana kampus untuk tampil di ruang publik.
“Demokrasi tanpa kontrol tidak bagus. Pers kampus penting sebagai pilar ke-4 demokrasi,” tambahnya.
Pelatihan yang dibuka oleh Wakil Rektor 3 IIKNU, Tri Yunita Fitria Damayanti STR.Keb M.Kes, disambut antusias. Ia menyebut kegiatan ini selaras dengan rencana pengembangan ormawa IIKNU.
“Kami sudah rasan-rasan soal pers kampus dan berencana menggelar pelatihan. Ternyata RPS hadir di sini, ini kebetulan sekali,” ungkapnya.
IIKNU menyatakan siap berkolaborasi dengan para sponsor, termasuk PT SBI, Pertamina Patra Niaga Jatim Balinus, PLN Nusantara Power UP Tanjung Awar-Awar, PRPP, TPPI, dan Pupuk Indonesia. Kolaborasi lanjutan di bidang kesehatan atau pelatihan tingkat advance juga terbuka.
Di tengah derasnya konten digital, peserta dibekali dasar jurnalisme yang tetap menjadi fondasi setiap konten mulai dari verifikasi informasi, etika penulisan, hingga pemilihan angle yang ramah mesin pencari (SEO).
Nilai-nilai ini saling berkaitan dengan kebutuhan algortimik: konten yang kredibel, mudah dipahami, dan relevan akan memiliki umur panjang di platform digital.
Pelatihan ditutup dengan penyerahan cinderamata untuk perwakilan IIKNU dan perusahaan pendukung. (*)
















