Oleh: Elya Umi Hanik*
Beranda Opini – Di tengah dinamika zaman yang terus berubah, dunia pendidikan dihadapkan pada tantangan yang kompleks. Era digital telah membawa dampak besar pada cara anak-anak belajar, berkomunikasi, dan membentuk identitasnya, Sabtu (20/12/2025).
Di satu sisi, kemajuan teknologi membuka akses pengetahuan tanpa batas. Namun di sisi lain, juga membawa tantangan baru: individualisme, konsumerisme, penurunan nilai etika, serta degradasi moral.
Baca Juga:
Dalam konteks inilah, pendidikan tidak cukup hanya mengedepankan aspek kognitif, tetapi harus memberikan perhatian serius pada pembentukan karakter dan spiritualitas peserta didik.
Merespons hal ini, Kementerian Agama RI merancang Kurikulum berbasis Cinta sebagai langkah strategis untuk membumikan nilai-nilai kemanusiaan, keberagamaan, dan kebangsaan dalam sistem pendidikan Madrasah.
Kurikulum Kurikulum Berbasis Cinta adalah sebuah kurikulum yang dirancang dengan menitikberatkan pada pengembangan karakter, pembelajaran berbasis pengalaman, serta perhatian mendalam terhadap aspek sosial dan emosional dalam pendidikan.
Kurikulum ini bertujuan untuk melahirkan insan yang humanis, nasionalis, naturalis, toleran, dan selalu mengedepankan cinta sebagaiprinsip dasar dalam kehidupan.
Dalam hal ini, Madrasah memiliki keunikan tersendiri, di lembaga ini, aspek iman dan akhlak menjadi fondasi utama pendidikan. Kurikulum berbasis cinta memperkuat hal ini dengan menekankan keseimbangan antara keimanan, moralitas (akhlak), dan intelektualitas sebagai satu kesatuan yang utuh.
Sebagaimana teori pendidikan karakter oleh Thomas Lickona, pendidikan yang bermutu bukan hanya mengajarkan kecerdasan akademik, tetapi juga mengembangkan kepribadian yang baik, melalui proses internalisasi nilai dan pembiasaan sikap: knowing the good, feeling the good, and doing the good mengetahui yang baik, merasakan yang baik, dan melakukan yang baik.
Kurikulum berbasis cinta tentunya sejalan dengan prinsip ini karena mendorong integrasi nilai ke dalam pembelajaran sehari-hari. Dalam teori perkembangan moral Jean Piaget dan Lawrence Kohlberg, anak-anak berkembang secara bertahap dalam memahami konsep moral dan nilai.
Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang membimbing mereka dari tahapan berpikir konkret ke abstrak, dari sekadar ketaatan terhadap aturan ke pemahaman nilai di balik aturan tersebut. Kurikulum berbasis cinta memberi ruang pembelajaran agama yang tidak bersifat dogmatis, tetapi aplikatif dan reflektif.
Peserta didik di Madrasah tidak hanya diajarkan menghafal materi, tetapi diajak untuk menginternalisasi nilai-nilai keimanan dalam kehidupan sehari-hari. Ini sejalan dengan semangat pendidikan berbasis nilai (values-based education), di mana nilai agama dijadikan sumber motivasi dan pengambilan keputusan moral.
Peserta didik belajar bukan hanya dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari apa yang mereka lihat. Di madrasah, guru bukan hanya menjadi pengajar, tetapi juga figur teladan yang mencerminkan nilai-nilai Islam dalam perilaku sehari-hari.
Kurikulum berbasis cinta mendorong pembiasaan akhlak baik melalui pendekatan pembelajaran integratif: menyisipkan nilai moral dalam semua mata pelajaran, bukan hanya di pelajaran Pendidikan Agama Islam.
Dengan demikian, nilai seperti kejujuran, tanggung jawab, toleransi, dan kasih sayang tidak hanya menjadi teori, tetapi bagian dari budaya Madrasah yang hidup. Kurikulum berbasis cinta mendorong berkembangnya pemikiran kritis dan reflektif sebagai bagian dari pembelajaran yang bermakna.
Di sinilah konsep “deep learning” atau pembelajaran mendalam menjadi relevan, deep learning merupakan pendekatan belajar yang menekankan pada pemahaman konsep, keterkaitan antar ide, serta aplikasi pengetahuan dalam konteks nyata, dalam Madrasah, deep learning dapat diterapkan melalui pembelajaran tematik, diskusi nilai, studi kasus, dan proyek-proyek berbasis masalah (problem-based learning).
Dengan mengedepankan pendekatan ini, madrasah tidak hanya menghasilkan peserta didik yang patuh, tetapi juga mampu berpikir mandiri, menyelesaikan masalah, dan menjadi agen perubahan sosial.
Dalam konteks perubahan sosial yang cepat, pendidikan karakter sering tergerus oleh tekanan nilai-nilai pragmatis dan instan. Generasi muda saat ini hidup di tengah keterhubungan global, tetapi juga kerentanan identitas.
Mereka rentan terhadap hoaks, radikalisme digital, budaya hedonisme, hingga tekanan media sosial. Oleh karena itu, kurikulum madrasah harus mampu mengakar dan menjulang: kuat dalam nilai-nilai lokal dan spiritual, namun adaptif terhadap tantangan global.
Kurikulum berbasis cinta memberikan kerangka kerja yang bisa menjembatani kedua kepentingan ini, menanamkan nilai-nilai Islam yang moderat dan kontekstual, namun juga membekali siswa dengan keterampilan abad ke-21: berpikir kritis, komunikasi, kolaborasi, dan kreativitas.
Kurikulum seringkali dipahami hanya sebagai dokumen formal yang mengatur isi pelajaran. Namun, Kurikulum berbasis cinta membawa semangat baru: kurikulum yang menghidupkan hati, menggerakkan akal, dan menyentuh jiwa, bukan sekadar kumpulan indikator dan tujuan pembelajaran, melainkan kerangka nilai yang memanusiakan manusia.
Sebagaimana ditegaskan oleh Ki Hajar Dewantara, pendidikan sejati adalah tuntunan dalam hidup tumbuhnya anak, agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya sebagai manusia dan anggota masyarakat.
Kurikulum berbasis cinta memberi jalan bagi Madrasah untuk menjadi ruang aman dan nyaman bagi peserta didik dalam menemukan jati dirinya. Dengan Kurikulum berbasis cinta, madrasah dapat menjadi pelopor pendidikan yang tidak hanya kompeten secara akademik, tetapi juga unggul secara moral dan spiritual.
Kurikulum berbasis cinta mengajak kita kembali ke akar: mendidik manusia yang utuh. Manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki hati yang hidup dan akhlak yang luhur. Manusia yang mampu menjadi penerang di tengah gelapnya zaman, bukan malah larut di dalamnya.
Membangun karakter, menanamkan iman, dan menajamkan intelektualitas. Kurikulum berbasis cinta hadir sebagai jalan terang menuju cita-cita luhur itu. Semoga madrasah tetap menjadi taman ilmu, taman akhlak, dan taman peradaban. (*)
*: Dosen PGMI UIN Sunan Kudus.
















