Beranda Tuban – Ramadan di Kabupaten Tuban terasa kurang lengkap tanpa kehadiran Bubur Suro Sunan Bonang. Takjil bercita rasa rempah khas ini telah menjadi tradisi turun-temurun yang selalu dinanti masyarakat setiap bulan suci.
Setiap sore selama Ramadan, aroma santan dan kaldu sapi mengepul dari halaman Masjid Astana di kompleks makam Astana Sunan Bonang, Kelurahan Kutorejo, Kecamatan Kota Tuban. Di lokasi inilah Bubur Suro dimasak dan dibagikan secara gratis kepada warga menjelang waktu berbuka puasa.
Resep Bubur Suro diyakini tetap lestari hingga kini. Bahan utamanya terdiri dari beras, daging dan kaldu sapi, aneka rempah pilihan, serta santan kelapa. Perpaduan tersebut menghasilkan cita rasa gurih yang kental dengan nuansa Timur Tengah.
Baca Juga:
Tradisi pembagian Bubur Suro ini telah berlangsung puluhan tahun dan terus dijaga masyarakat sekitar makam Sunan Bonang. Bagi warga Tuban, bubur ini bukan sekadar menu berbuka puasa, melainkan simbol kebersamaan dan warisan budaya Ramadan.
Setiap hari, panitia memasak Bubur Suro menggunakan sedikitnya 12 kilogram beras, 15 kilogram tulang atau balungan sapi, serta 10 butir kelapa. Seluruh bahan dimasak dalam dua wajan besar selama hampir tiga jam menggunakan kayu bakar, demi menghasilkan aroma dan rasa khas yang sulit tergantikan.
Mohammad Lazim, salah satu peracik bubur, mengatakan tradisi ini sudah ada sejak dirinya kecil dan hanya dilakukan setiap Ramadan.
“Bubur ini rutin disajikan selama bulan Ramadan. Setiap hari kami memasak hingga dua wajan besar dan membagikannya secara gratis kepada warga dan para jamaah,” ujarnya, Senin (23/2/2026).
Ia menambahkan, proses memasak membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga jam. Setelah matang, bubur dibagikan kepada warga usai salat Asar.
“Setiap hari bisa habis dalam waktu singkat karena warga sangat antusias,” imbuhnya.
Tanpa perlu menunggu lama, dua wajan besar Bubur Suro langsung ludes diserbu warga yang telah mengantre. Antusiasme masyarakat menunjukkan betapa kuatnya ikatan tradisi ini dalam kehidupan warga Tuban.
Muhammad Mahfud (65) mengaku telah menikmati Bubur Suro sejak kecil.
“Sudah dari kecil ambil bubur ini. Rasanya seperti ada yang kurang kalau tidak makan Bubur Suro saat Ramadan,” tuturnya.
Bubur Suro Sunan Bonang pun menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadan di Tuban menghadirkan cita rasa khas, kenangan masa kecil, dan kebersamaan yang terus terjaga lintas generasi. (*)














