Merdeka dengan Kontribusi, Bukan Konvoi

Editor

Opini

Pembina Sanggar Pemuda Bergerak, Bambang Budiono. (Foto/Istimewa)

Beranda Tuban – Setiap Agustus, semangat merah putih berkibar di seantero negeri. Lomba panjat pinang, balap karung, dan karnaval meriah mewarnai sudut-sudut desa hingga kota. Namun, di tengah gegap gempita peringatan 80 tahun Indonesia merdeka, sudah saatnya kita bertanya: Sudahkah kemeriahan itu sebanding dengan penghayatan mendalam akan makna kemerdekaan yang sesungguhnya? Apakah hura-hura dan konvoi kendaraan hanyalah pencapaian simbolik semata, sementara substansi pengisian kemerdekaan terabaikan?

Memang, euforia dan kegembiraan dalam merayakan hari bersejarah adalah hal yang manusiawi dan perlu. Namun, ketika perayaan hanya berhenti pada ritual tahunan yang penuh sorak-sorai dan konsumsi berlebihan, tanpa diimbangi refleksi dan aksi nyata, maka kita telah mencederai esensi kemerdekaan itu sendiri. Kemerdekaan bukanlah tujuan akhir, melainkan pintu gerbang untuk membangun kehidupan berbangsa yang lebih adil, makmur, dan bermartabat.

Lihatlah realitas yang mengitari kita. Ketimpangan ekonomi masih membentang lebar. Krisis pangan dan energi mengintai di depan mata. Pendidikan berkualitas masih menjadi impian bagi jutaan anak bangsa di daerah tertinggal. Bencana alam dan krisis iklim mengancam keberlangsungan hidup. Degradasi moral dan intoleransi merapuhkan sendi-sendi kebhinekaan. Di tengah tantangan multidimensi yang semakin kompleks ini, apakah perayaan yang menghabiskan sumber daya besar hanya untuk kemeriahan sesaat masih relevan?

Sudah bukan saatnya lagi kemerdekaan hanya dirayakan dengan hura-hura. Sudah waktunya kita mengalihkan energi, semangat, dan sumber daya yang selama ini habis untuk hal-hal yang bersifat seremonial belaka, menuju perayaan yang bermakna dan berkelanjutan. Bagaimana caranya?Dari Konvoi ke Kontribusi. Alihkan dana dan semangat untuk kegiatan konkret. Gelar bakti sosial massal, donor darah, renovasi fasilitas umum yang rusak (sekolah, puskesmas, jalan desa), penanaman pohon untuk mitigasi iklim, atau pelatihan keterampilan bagi pemuda dan ibu-ibu.

Dari Lomba Seremonial ke Lomba Inovasi. Dorong lomba-lomba yang memecahkan masalah lokal atau nasional. Lomba inovasi teknologi tepat guna untuk pertanian/UMKM, lomba penulisan gagasan solutif untuk isu sosial-ekonomi, lomba kreativitas berbasis kearifan lokal yang berdaya jual.

Dari Hura-Hura ke Refleksi Kolektif. Gunakan momentum Agustusan untuk dialog kebangsaan yang mendalam di tingkat RT/RW, sekolah, kampus, dan kantor. Diskusikan sejarah perjuangan dengan kritis, evaluasi capaian pembangunan, dan galang komitmen bersama untuk mengatasi persoalan bangsa.

Dari Konsumsi ke Produksi. Kampanyekan perayaan dengan memanfaatkan dan memberdayakan produk lokal. Hindari pemborosan dan budaya konsumtif berlebihan yang justru tidak mencerminkan semangat kemandirian para pendiri bangsa.

Peringatan kemerdekaan harus menjadi momen reboisasi semangat juang, bukan sekadar pesta pora yang berlalu begitu saja. Semangat juang itu bukan lagi mengangkat senjata, tetapi mengangkat derajat kehidupan rakyat melalui kerja keras, gotong royong, inovasi, dan integritas.

Merdeka sejati adalah ketika rakyat terbebas dari belenggu kemiskinan, kebodohan, ketidakadilan, dan ketakutan. Itulah kemerdekaan yang sesungguhnya, yang diperjuangkan oleh para pahlawan dengan tetesan darah dan air mata. Apakah kita, generasi penerus, hanya akan menghormati pengorbanan mereka dengan pesta dan konvoi?

Mari jadikan peringatan kemerdekaan ke-80 ini sebagai titik balik. Mari ganti hura-hura dengan aksi nyata. Mari tukar sorak-sorai kosong dengan kontribusi konkret. Mari isi kemerdekaan dengan kerja membangun, bukan sekadar merayakan. Hanya dengan cara itu, kita benar-benar menghormati jasa para pahlawan dan mewujudkan cita-cita kemerdekaan: Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur untuk semua.

Dirgahayu Indonesiaku! Merdeka dengan Makna!

Terpopuler

Pengendara Honda Vario Tewas Usai Jatuh Menghindari Jalan Rusak di Tuban

Editor

Beranda Tuban – Kecelakaan lalu lintas tragis terjadi di wilayah hukum Polres Tuban pada hari Jumat pagi, 01 Agustus 2025. ...

Curi Diesel Traktor di Persawahan Tuban, Pelaku Jual Barang Curian Lewat Facebook, 2 DPO Diburu

Editor

Beranda Tuban – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Tuban berhasil mengamankan pelaku pencurian diesel traktor di area persawahan Desa Tengger, ...

Kasus Penipuan Pelunasan Hutang Fiktif dengan SBKKN BRI Tuban, Polisi Tetapkan Dua Tersangka

Editor

Beranda Tuban – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Tuban melalui Unit Tindak Pidana Ekonomi mengungkap kasus penipuan berkedok program pelunasan ...

Parenting KB-RA Muslimat NU Salafiyah Merakurak Tuban: Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua Lindungi Generasi Emas dari Zat Adiktif

Editor

Beranda Tuban – KB-RA Muslimat NU Salafiyah Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban menggelar kegiatan parenting yang bertujuan untuk memberikan edukasi bagi ...

Rotasi Besar di Pemkab Tuban, 8 Pejabat Tinggi Dilantik Mas Lindra Hari Ini

Editor

Beranda Tuban – Suasana Pendapa Kridha Manunggal, Kamis (31 Juli 2025), terasa khidmat saat Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky, memimpin ...

Kecelakaan Maut di Rengel Tuban, Pengendara Asal Bojonegoro Meninggal di Puskesmas

Editor

Beranda Tuban – Kecelakaan lalu lintas tragis terjadi pada Rabu pagi sekitar pukul 06.45 WIB di Jalan Pakah-Soko, Desa Maibit, ...

Tinggalkan komentar