Beranda Jakarta – PT Pertamina (Persero) menegaskan komitmennya untuk tetap bermitra dengan perusahaan energi asal Rusia, Rosneft, dalam pengembangan Proyek Kilang Tuban di Jawa Timur.
Meskipun Amerika Serikat (AS) memberlakukan sanksi terhadap sejumlah perusahaan migas Rusia, kerja sama strategis Pertamina dengan Rosneft masih terus berjalan.
Direktur Utama Pertamina, Simon Aloysius Mantiri, menyampaikan bahwa hingga saat ini tidak ada perubahan dalam struktur kemitraan proyek tersebut.
Baca Juga:
“Sejauh ini masih dengan partner yang lama (Rosneft), ya,” ujar Simon dikutip dari Antara, Rabu (12/11/2025).
Simon menambahkan, saat ini pihaknya bersama Rosneft tengah berada pada tahap Final Investment Decision (FID) untuk proyek Kilang Tuban.
Hasil FID ini nantinya akan menjadi penentu apakah proyek akan dilanjutkan sesuai rencana awal atau dilakukan penyesuaian.
“Untuk FID, mungkin kami melihat awal Desember, ya. Kami akan update lagi nanti,” lanjutnya.
Kilang Tuban merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang digarap untuk memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak (BBM).
Proyek ini diharapkan mampu memproduksi lebih dari 200 ribu barel per hari dan menjadi salah satu pilar utama dalam program Refinery Development Master Plan (RDMP) Pertamina.
Melalui kolaborasi dengan Rosneft, proyek ini diharapkan menghadirkan transfer teknologi dan peningkatan kapasitas industri pengolahan migas nasional, serta membuka lapangan kerja baru di kawasan Jawa Timur.
Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta masyarakat untuk tidak terlalu khawatir terhadap dampak sanksi Amerika Serikat terhadap perusahaan migas Rusia yang berinvestasi di Indonesia.
Menurut Bahlil, pemerintah memastikan setiap investasi yang berjalan di Indonesia tetap sesuai dengan peraturan dan kepentingan nasional.
“Yang penting proyek strategis ini bisa memberikan manfaat langsung bagi rakyat dan menjaga ketahanan energi nasional,” ujarnya dalam kesempatan terpisah.
Sanksi Amerika Serikat terhadap Rosneft dan Lukoil diumumkan oleh Menteri Keuangan AS Scott Bessent pada Rabu (22/10).
Ia menyerukan “gencatan senjata segera” terkait konflik Rusia-Ukraina, seraya menegaskan bahwa Gedung Putih siap mengambil tindakan tambahan bila diperlukan.
Pada hari yang sama, Presiden AS Donald Trump juga mengonfirmasi pembatalan pertemuannya dengan Presiden Rusia Vladimir Putin di Hongaria, sebagai bagian dari tekanan diplomatik terhadap Moskow.
Meski demikian, Pertamina memastikan bahwa proyek Kilang Tuban tetap berjalan sesuai rencana sambil menunggu hasil FID Desember 2025, yang akan menjadi tonggak penting kelanjutan investasi bersama Rosneft. (*)
















