Tuban, berandaonline.id – Persoalan ketahanan energi nasional mulai dikenalkan kepada pelajar di Tuban melalui edukasi industri migas. Salah satu isu yang dibahas adalah kesenjangan antara produksi minyak dalam negeri dan kebutuhan nasional yang masih cukup lebar.
Head of Communication, Relations & CID Pertamina EP (Pertamina Hulu Energi Zona 11), Wazirul Luthfi, menyebut produksi minyak nasional saat ini berada di kisaran 600 ribu barel per hari. Sementara kebutuhan minyak atau bahan bakar minyak (BBM) nasional mencapai sekitar 1,6 juta barel per hari.
Dengan kondisi tersebut, terdapat selisih sekitar 1 juta barel per hari antara produksi dan kebutuhan nasional berdasarkan angka yang disampaikan Wazirul. Kondisi ini menjadi salah satu gambaran tantangan yang dihadapi Indonesia dalam menjaga ketahanan energi.
Baca Juga:
Hal tersebut disampaikan Wazirul saat memberikan materi dalam pelatihan Mobile Journalism yang digelar Ronggolawe Solidarity Press (RPS) di MAN 2 Tuban.
Kegiatan tersebut diikuti siswa dari sejumlah sekolah di wilayah operasi Pertamina PHE TEJ, juga dihadiri Kepala Kantor Kemenag Tuban, Umi Kulsum, Kepala MAN 2 Tuban, dan juga Ketua RPS Tuban, Khoirul Huda.
Menurut Wazirul, pemahaman mengenai persoalan energi penting dikenalkan kepada generasi muda. Sebab, isu migas tidak hanya berkaitan dengan aktivitas produksi, tetapi juga menyangkut pemenuhan kebutuhan masyarakat, distribusi energi, hingga ketahanan energi nasional.
“Pemerintah sendiri menargetkan produksi atau lifting minyak bumi mencapai 1 juta barel per hari pada 2030. Target tersebut menjadi bagian dari visi ketahanan energi pemerintah sebagaimana tercantum dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto,” ungkap pria asal Kab. Lamongan itu.
Jika dibandingkan dengan angka produksi 600 ribu barel per hari yang disampaikan dalam kegiatan tersebut, target 1 juta barel per hari berarti membutuhkan tambahan produksi sekitar 400 ribu barel per hari.
Di sisi lain, pria yang sebelumnya bertugas di Jawa Barat itu bahwa tantangan energi Indonesia tidak hanya berbicara mengenai peningkatan produksi minyak.
“Minyak, gas, dan batu bara diperkirakan masih dibutuhkan pada 2050, meskipun pada periode tersebut sekitar 35 persen kebutuhan energi ditargetkan telah dikonversikan ke energi baru terbarukan,” imbuhnya alumnus kampus Tri Sakti.
Gambaran tersebut, lanjut mantan kepala komunikasi di zona 7 Pertamina EP
menunjukkan bahwa transisi energi akan berjalan bersamaan dengan kebutuhan terhadap energi fosil. Karena itu, pemahaman publik mengenai proses produksi, distribusi, hingga konsumsi energi dinilai penting agar pembahasan mengenai sektor migas tidak hanya dibangun berdasarkan asumsi.
Wazirul juga menekankan pentingnya informasi berbasis data ketika masyarakat menghadapi berbagai narasi mengenai industri migas dan distribusi energi.
Ia mencontohkan spekulasi terkait proses teknis industri migas maupun tuduhan pengoplosan BBM yang menurutnya perlu dilihat berdasarkan proses pengujian dan data laboratorium yang dilakukan secara ketat serta tersertifikasi.
“Bagi para pelajar yang mengikuti pelatihan jurnalistik, isu tersebut sekaligus menjadi contoh bahwa perkembangan teknologi digital perlu diikuti kemampuan melakukan verifikasi informasi,” katanya.
Namun, penguasaan teknologi tersebut, kata Wazirul, tetap harus dibarengi dengan etika dan karakter.
“Kunci utamanya adalah memperbaiki adab terlebih dahulu, baru kemudian ilmu. Penguasaan teknologi dan alat canggih jika didasari oleh etika dan adab yang baik akan mendatangkan ilmu yang bermanfaat serta membawa dampak positif bagi masyarakat luas,” pungkasnya.
(red/ron)














