MBG: Dari Makan Bergizi Gratis Menuju Membaca Buku Gratis

Editor

Opini

Komunitas Omah Baca Santri bersama mahasiswa STAI Senori menghadirkan ruang literasi terbuka untuk masyarakat. (Foto/dok.istimewa)

Oleh: Muhamad Ulil Arham (Founder Omah Baca Santri)

Tuban – Program MBG (Makanan Bergizi Gratis) lahir dengan semangat besar: menyelamatkan masa depan generasi muda Indonesia melalui pemenuhan gizi yang layak. Gagasan ini patut diapresiasi karena negara memang memiliki tanggung jawab memastikan anak-anak tumbuh sehat, kuat, dan siap menghadapi tantangan zaman.

Namun, sebagus apa pun sebuah program negara, ia akan kehilangan makna ketika pelaksanaannya justru membuka ruang penyimpangan.

Belakangan, publik berkali-kali disuguhi berbagai persoalan dalam pengelolaan anggaran publik, mulai dari dugaan mark-up, permainan proyek, hingga praktik korupsi yang melibatkan oknum tertentu. Situasi ini menegaskan satu hal penting: persoalan bangsa ini sering kali bukan kekurangan program, melainkan krisis integritas dalam menjalankan program.

Di negeri ini, anggaran triliunan rupiah kerap habis dibicarakan, tetapi manfaatnya tidak selalu benar-benar sampai kepada rakyat. Program yang seharusnya menjadi jalan kesejahteraan justru berpotensi berubah menjadi ladang bancakan apabila pengawasan lemah dan moral pejabatnya rapuh.

Korupsi bukan sekadar pencurian uang negara. Korupsi adalah perampasan hak masyarakat. Ketika anggaran untuk anak-anak, pendidikan, kesehatan, atau pangan diselewengkan, maka yang dicuri bukan hanya uang, melainkan masa depan.

Karena itu, pembangunan bangsa tidak cukup hanya berfokus pada kebutuhan fisik. Memberi makan memang penting, tetapi membangun kesadaran jauh lebih mendesak. Tubuh yang sehat tanpa pikiran yang kritis hanya akan melahirkan generasi yang mudah diarahkan, mudah dibohongi, dan mudah dimanfaatkan.

Di Titik Inilah Literasi Menjadi Penting

Jika MBG hadir sebagai nutrisi bagi tubuh, maka membaca adalah nutrisi bagi akal sehat dan karakter manusia. Bangsa yang kuat tidak hanya dibangun oleh anak-anak yang kenyang, tetapi juga oleh masyarakat yang gemar membaca, terbiasa berpikir kritis, dan berani mempertanyakan ketidakadilan.

Sayangnya, budaya literasi di Indonesia masih memprihatinkan. Banyak orang mudah percaya hoaks, mudah terseret propaganda, bahkan tidak terbiasa membaca informasi secara utuh sebelum bereaksi. Dalam kondisi seperti ini, praktik korupsi menjadi semakin mudah tumbuh karena masyarakat kehilangan daya kritisnya.

Korupsi pada akhirnya bukan hanya persoalan hukum, melainkan juga kegagalan pendidikan karakter.

Karena itu, semangat “MBG” seharusnya tidak berhenti pada Makanan Bergizi Gratis semata. Kita juga membutuhkan “MBG” lain: Membaca Buku Gratis.

Gagasan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi dampaknya jauh lebih panjang. Buku melahirkan kesadaran. Kesadaran melahirkan keberanian. Dan keberanian adalah fondasi utama untuk melawan ketidakadilan serta praktik-praktik koruptif.

Berangkat dari keyakinan itu, Komunitas Omah Baca Santri bersama mahasiswa STAI Senori menghadirkan ruang literasi terbuka untuk masyarakat. Kegiatan ini dilaksanakan setiap Senin malam dan Kamis malam di Perempatan Kecamatan Senori.

Bukan sekadar lapak baca jalanan, kegiatan ini juga menghadirkan Tadarus Buku dan diskusi tematik bulanan sebagai ruang belajar bersama bagi santri, pemuda, dan masyarakat umum.

Gerakan kecil ini mungkin tidak langsung mengubah bangsa. Namun, perubahan besar memang selalu dimulai dari langkah sederhana: membuka buku, membaca, lalu membangun kesadaran bersama.

Sebab, bangsa yang malas membaca akan mudah dipimpin oleh kebohongan. Sebaliknya, bangsa yang literat akan lebih sulit ditipu oleh kekuasaan yang menyimpang.

Kita tentu membutuhkan generasi yang sehat secara fisik. Tetapi Indonesia juga membutuhkan generasi yang cerdas, berintegritas, dan memiliki keberanian moral untuk menjaga kepentingan publik.

Karena pada akhirnya, korupsi tumbuh subur di ruang yang minim pengetahuan. Sementara literasi tumbuh di ruang yang melahirkan kesadaran. Dan kesadaran adalah awal dari perubahan. 

Editor: berandaonline.id

Terpopuler

Pengendara Honda Vario Tewas Usai Jatuh Menghindari Jalan Rusak di Tuban

Editor

Beranda Tuban – Kecelakaan lalu lintas tragis terjadi di wilayah hukum Polres Tuban pada hari Jumat pagi, 01 Agustus 2025. ...

Curi Diesel Traktor di Persawahan Tuban, Pelaku Jual Barang Curian Lewat Facebook, 2 DPO Diburu

Editor

Beranda Tuban – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Tuban berhasil mengamankan pelaku pencurian diesel traktor di area persawahan Desa Tengger, ...

Kasus Penipuan Pelunasan Hutang Fiktif dengan SBKKN BRI Tuban, Polisi Tetapkan Dua Tersangka

Editor

Beranda Tuban – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Tuban melalui Unit Tindak Pidana Ekonomi mengungkap kasus penipuan berkedok program pelunasan ...

Parenting KB-RA Muslimat NU Salafiyah Merakurak Tuban: Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua Lindungi Generasi Emas dari Zat Adiktif

Editor

Beranda Tuban – KB-RA Muslimat NU Salafiyah Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban menggelar kegiatan parenting yang bertujuan untuk memberikan edukasi bagi ...

Rotasi Besar di Pemkab Tuban, 8 Pejabat Tinggi Dilantik Mas Lindra Hari Ini

Editor

Beranda Tuban – Suasana Pendapa Kridha Manunggal, Kamis (31 Juli 2025), terasa khidmat saat Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky, memimpin ...

Kecelakaan Maut di Rengel Tuban, Pengendara Asal Bojonegoro Meninggal di Puskesmas

Editor

Beranda Tuban – Kecelakaan lalu lintas tragis terjadi pada Rabu pagi sekitar pukul 06.45 WIB di Jalan Pakah-Soko, Desa Maibit, ...

Tinggalkan komentar