Media Lokal Terancam AI? Bos KLY dan Suara.com Bongkar Strategi Bertahan di 2026 

Editor

Berita

Dua petinggi KLY dan Suara.com membeberkan strategi agar media lokal tetap bertahan di era digital pada Media Gathering Pertamina 2026. (Foto/dok. Beranda Online)

Banyuwangi, berandaonline.id – Gelombang kecerdasan buatan (AI), media sosial, hingga perubahan perilaku pembaca membuat industri media memasuki babak baru yang tak bisa dihindari. Jika tidak segera beradaptasi, media, terutama media lokal, berisiko ditinggalkan audiens.

Isu itulah yang menjadi pembahasan utama dalam sesi Materi Jurnalistik pada Media Gathering 2026 Regional Indonesia Timur Subholding Upstream Pertamina bertema “The Future is Collaborative: Sustaining Our Energy” yang berlangsung di Banyuwangi, 10-11 Juli 2026.

Kegiatan yang digelar bersama SKK Migas, Pertamina EP, Pertamina EP Cepu, Pertamina EP Cepu ADK, PHE WMO, PHE Randugunting, dan PHE Tuban East Java itu menjadi ruang berbagi wawasan antara industri energi dan insan pers dari berbagai daerah.

Setelah sebelumnya peserta mendapatkan pemaparan mengenai gambaran industri hulu migas serta pentingnya menjaga reputasi perusahaan dari SKK Migas dan Pertamina, sesi berikutnya mengupas tantangan yang kini menghantam dunia jurnalistik.

Chief Content Officer (CCO) KapanLagi Youniverse (KLY), Wenseslaus Manggut, menegaskan tantangan media saat ini tidak lagi sama di setiap daerah. 

Menurutnya, media yang berada di wilayah dengan industri berkembang memiliki peluang lebih besar membangun kolaborasi bisnis, sedangkan media di daerah tanpa ekosistem industri harus berjuang lebih keras untuk bertahan.

Ia menjelaskan perubahan teknologi dan perilaku publik telah memaksa media mengubah cara memproduksi sekaligus mendistribusikan informasi. 

“Visual kini menjadi pintu pertama untuk menarik perhatian pembaca karena otak manusia mampu memproses gambar jauh lebih cepat dibandingkan teks,” ujar Wens sapaan akrabnya. 

Meski demikian, Wens mengingatkan teks tetap memiliki kekuatan yang belum tergantikan. Visual memang efektif mencuri perhatian, tetapi tulisan memberikan penjelasan yang lebih utuh, lebih mendalam, dan mampu mengarahkan cara pembaca memahami sebuah persoalan.

Ia juga memaparkan perubahan pola konsumsi berita. Jika beberapa tahun lalu pembaca berita berbasis teks masih mendominasi, kini arus distribusi informasi semakin bergeser ke media sosial. Bahkan, aplikasi WhatsApp disebut menjadi salah satu saluran paling efektif membangun pembaca loyal.

Menurutnya, media lokal sebaiknya tidak hanya mengirimkan berita melalui WhatsApp, tetapi juga menghadirkan konten yang dekat dengan kehidupan masyarakat seperti kuliner, budaya, komunitas hingga berbagai peristiwa yang terjadi di daerahnya. Strategi tersebut dinilai jauh lebih efektif membangun komunitas pembaca dibanding mengejar isu nasional yang sudah dipenuhi media besar.

Masalah lain yang kini dihadapi industri media adalah kehadiran AI. Wenseslaus menyebut hampir seluruh media besar mengalami penurunan trafik pembaca untuk berita-berita evergreen karena AI dan mesin pencari kini mampu langsung menjawab pertanyaan pengguna tanpa harus membuka website berita.

Fenomena itu diperparah dengan semakin banyaknya lembaga pemerintah maupun pejabat publik yang menyampaikan informasi melalui kanal digital mereka sendiri. 

“Akibatnya, masyarakat tidak selalu menunggu pemberitaan media karena informasi bisa langsung diakses dari sumber utama atau dirangkum AI,” katanya. 

Karena itu, ia menilai media tidak lagi boleh bergantung sepenuhnya pada trafik website. Website tetap penting sebagai pusat kualitas konten dan penguatan merek, sedangkan pertumbuhan audiens perlu dibangun melalui multimedia, media sosial, serta komunitas.

Salah satu contoh yang dinilai berhasil adalah SukabumiUpdate yang tidak hanya memproduksi berita, tetapi juga mengembangkan podcast, kegiatan komunitas hingga event olahraga untuk memperkuat hubungan dengan pembacanya.

Wens juga menyarankan media lokal memperkuat konten lokal serta mengolah kembali informasi resmi dari pemerintah maupun perusahaan menjadi berita yang memiliki nilai jurnalistik sehingga lebih mudah dikenali mesin AI sekaligus tetap bermanfaat bagi masyarakat.

Sementara itu, Chief Executive Officer (CEO) Suara.com, Suwarjono, mengangkat tema “Yang Pasti Hanya Perubahan”. Ia menilai perubahan industri media saat ini merupakan lompatan terbesar dalam beberapa dekade terakhir.

Menurut Suwarjono, Suara.com bahkan telah mengalihkan sebagian sumber daya manusia dari produksi berita teks menuju konten visual. 

“Hasilnya, jumlah pembaca justru meningkat meski produksi artikel teks berkurang hingga separuh,” beber Kak Jono biasa disapa. 

Ia menegaskan persoalan terbesar media saat ini bukan hanya soal perubahan teknologi, tetapi juga model bisnis. Pendapatan iklan terus menurun, platform digital mengambil sebagian besar trafik dan belanja iklan, sementara biaya operasional media tetap tinggi.

Kondisi tersebut membuat jurnalisme saja tidak lagi cukup untuk membiayai operasional perusahaan media. Karena itu, media harus mulai membangun sumber pendapatan baru melalui berbagai layanan di luar produk berita konvensional.

Menurutnya, media lokal yang masih mampu bertahan umumnya memiliki kekuatan pada konten yang sangat spesifik atau niche. Sebaliknya, media yang masih berpikir dengan pola lama, tidak memiliki data audiens, dan hanya mengandalkan satu sumber pendapatan akan semakin sulit bersaing.

Suwarjono menilai masa depan media bukan sekadar memproduksi berita, tetapi mengubah kepercayaan publik, pengetahuan lokal, serta komunitas menjadi produk dan layanan yang memiliki nilai ekonomi.

Ia pun membagikan empat strategi bagi media lokal menghadapi era AI. Pertama, jangan melawan platform digital, tetapi manfaatkan sebagai saluran distribusi dan membangun komunitas. Kedua, fokus memenangkan konten lokal yang tidak dimiliki media nasional. 

“Ketiga, media harus memiliki wajah manusia sehingga kedekatan dengan audiens tetap terjaga. Keempat, media lokal harus berkembang menjadi local intelligence hub, yakni pusat informasi dan pengetahuan yang benar-benar memahami daerahnya sendiri,” tegasnya. (Red/Ron) 

Terpopuler

Pengendara Honda Vario Tewas Usai Jatuh Menghindari Jalan Rusak di Tuban

Editor

Beranda Tuban – Kecelakaan lalu lintas tragis terjadi di wilayah hukum Polres Tuban pada hari Jumat pagi, 01 Agustus 2025. ...

Curi Diesel Traktor di Persawahan Tuban, Pelaku Jual Barang Curian Lewat Facebook, 2 DPO Diburu

Editor

Beranda Tuban – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Tuban berhasil mengamankan pelaku pencurian diesel traktor di area persawahan Desa Tengger, ...

Kasus Penipuan Pelunasan Hutang Fiktif dengan SBKKN BRI Tuban, Polisi Tetapkan Dua Tersangka

Editor

Beranda Tuban – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Polres Tuban melalui Unit Tindak Pidana Ekonomi mengungkap kasus penipuan berkedok program pelunasan ...

Parenting KB-RA Muslimat NU Salafiyah Merakurak Tuban: Kolaborasi Sekolah dan Orang Tua Lindungi Generasi Emas dari Zat Adiktif

Editor

Beranda Tuban – KB-RA Muslimat NU Salafiyah Kecamatan Merakurak, Kabupaten Tuban menggelar kegiatan parenting yang bertujuan untuk memberikan edukasi bagi ...

Rotasi Besar di Pemkab Tuban, 8 Pejabat Tinggi Dilantik Mas Lindra Hari Ini

Editor

Beranda Tuban – Suasana Pendapa Kridha Manunggal, Kamis (31 Juli 2025), terasa khidmat saat Bupati Tuban, Aditya Halindra Faridzky, memimpin ...

Kecelakaan Maut di Rengel Tuban, Pengendara Asal Bojonegoro Meninggal di Puskesmas

Editor

Beranda Tuban – Kecelakaan lalu lintas tragis terjadi pada Rabu pagi sekitar pukul 06.45 WIB di Jalan Pakah-Soko, Desa Maibit, ...

Tinggalkan komentar