Tuban, berandaonline.id – TK Muslimat NU 04 Bangilan Tuban menggelar kegiatan parenting bertema “Kiat Sukses Mendidik Anak Gen Alpha: Sinergi Antar Sekolah, Orang Tua dan Anak”, Sabtu (9/5/2026). Kegiatan ini menjadi upaya sekolah dalam mendukung pembentukan serta penguatan karakter anak di era digital.
Acara berlangsung khidmat dan penuh antusias di halaman TK Muslimat NU 04 Bangilan dengan dihadiri sekitar 200 wali murid bersama seluruh guru. Hadir sebagai narasumber, Dr Farida Isroani, S.PdI, M.Pd, yang dikenal sebagai dosen, praktisi, peneliti, penulis buku, sekaligus pemerhati anak, gender, dan inklusi.
Dalam sambutannya, pengurus sekaligus penasehat sekolah, Fatimatun Zahroh, S.Pd, menegaskan pentingnya sinergi antara sekolah dan orang tua dalam mendidik anak-anak Generasi Alpha.
Baca Juga:
“Terima kasih atas kehadiran para wali murid dalam mendukung persamaan visi antara sekolah dan orang tua. Tanpa adanya sinergi, komunikasi, dan kolaborasi akan sulit mendidik anak-anak. Parenting ini diharapkan menjadi sarana komunikasi yang baik demi hasil terbaik bagi anak,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala TK Muslimat NU 04 Bangilan, Mamik Ismiyati, S.Pd, menyampaikan bahwa kegiatan parenting menjadi salah satu bentuk kolaborasi nyata antara sekolah, anak, dan orang tua.
“Kegiatan parenting dirasa penting sebagai upaya sukses mendidik karakter anak melalui kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan anak,” katanya.
Dalam pemaparannya, Farida Isroani menjelaskan bahwa anak Generasi Alpha yang lahir mulai tahun 2010 tumbuh bersama teknologi sejak usia dini sehingga membutuhkan pendekatan pendidikan yang berbeda dibanding generasi sebelumnya.
Menurutnya, sekolah harus lebih adaptif dan kolaboratif dengan menghadirkan ruang belajar fleksibel, berbasis proyek, serta melek digital.
“Setiap anak memiliki kelebihan dan keistimewaan berbeda. Guru dan orang tua perlu duduk bersama secara berkala untuk membahas perkembangan anak, bukan hanya nilai rapor,” jelasnya.
Ia juga menyoroti pentingnya peran orang tua sebagai teladan digital, bukan sekadar melarang penggunaan gadget.
“Kuncinya adalah menjadi contoh. Jika ingin anak tidak bermain HP saat makan, maka orang tua juga harus melakukan hal yang sama,” ujarnya.
Farida turut mengenalkan teknik 20-20-2, yakni setiap 20 menit menatap layar, anak dianjurkan beristirahat 20 detik dengan melihat benda sejauh 2 meter, serta melakukan aktivitas fisik tanpa gadget selama 2 jam setiap hari.
Selain itu, Farida menilai anak Generasi Alpha cenderung kritis dan mudah bosan sehingga perlu dilibatkan dalam pengambilan keputusan.
“Anak akan semakin menolak jika dipaksa melakukan kegiatan yang tidak diminati. Orang tua perlu mengenali minat dan bakat anak sejak dini lalu mendampingi mereka dalam kegiatan positif,” katanya.
Ia juga memperkenalkan metode pola asuh 7×3, yakni meluangkan waktu selama 7 menit setelah bangun tidur, 7 menit setelah bekerja atau berkegiatan, dan 7 menit sebelum tidur untuk membangun komunikasi dengan anak.
Dalam sesi diskusi, salah satu wali murid menanyakan solusi menghadapi anak yang dianggap semakin sulit diatur ketika orang tua terlalu lembut dalam mendidik.
Menanggapi hal tersebut, Farida menegaskan bahwa pola asuh keras justru dapat memicu tantrum pada anak.
“Kita tidak bisa mendidik Gen Alpha dengan cara lama. Semakin anak dikeras biasanya akan semakin tantrum. Solusinya adalah kolaborasi dan sinergi antara guru, orang tua, dan anak,” tegasnya.
Kegiatan parenting yang berlangsung sekitar empat jam itu ditutup dengan doa bersama dan sesi foto bersama seluruh peserta. (Red/Ron)















