Tuban, berandaonline.id – Puncak Hari Lahir (Harlah) ke-21 Yayasan Bahrul Huda Tuban menjadi momentum untuk mengenang perjalanan panjang lembaga pendidikan yang dibangun dari sebuah niat sederhana: membantu masyarakat mendapatkan akses pendidikan.
Kegiatan yang dirangkai dengan peringatan Maulidur Rasul tersebut digelar di kompleks Ma’had Bahrul Huda, Jalan Letda Sucipto, Kabupaten Tuban, Jawa Timur. Acara berlangsung dalam suasana religius dengan sholawat bersama dan majelis keagamaan.
Keluarga besar yayasan, para kiai, pengurus, santri, wali santri, alumni hingga masyarakat turut hadir dalam peringatan tersebut.
Baca Juga:
Pengasuh Ma’had Bahrul Huda, K.H. Fathul Huda, dalam sambutannya justru menyoroti perjalanan lembaga selama 21 tahun melalui perspektif keberkahan.
Menurutnya, keberhasilan dalam membangun lembaga pendidikan tidak hanya dapat dilihat dari ukuran fisik maupun capaian akademik. Ada proses, doa, ketulusan, serta kecintaan kepada para ulama dan orang-orang saleh yang diyakini menjadi bagian dari jalan datangnya keberkahan.
“Barokah itu sesuatu yang luar biasa. Barokah itu misteri dan sangat dahsyat. Salah satu supaya kita memperoleh barokah adalah mengagumi kemudian mencintai,” kata K.H. Fathul Huda.
K.H. Fathul Huda kemudian mengisahkan pengalamannya ketika menimba ilmu di Pondok Pesantren Tambakberas sekitar tahun 1970.
Saat itu, ia mengaku rutin berziarah ke makam K.H. Abdul Wahab Chasbullah. Kekaguman dan kecintaannya terhadap sosok ulama tersebut menjadi pengalaman spiritual yang menurutnya memperkuat pemahaman tentang haqqul yaqin.
Ia meyakini, rasa kagum dan cinta kepada ulama dapat menjadi salah satu jalan memperoleh keberkahan.
“Saya kagum kepada almaghfurlah Kiai Wahab. Karena kagum dan mencintai Mbah Kiai Wahab, saya mendapatkan barokahnya. Sekarang saya diberi pondok seperti yang njenengan lihat ini,” ujarnya.
Pesan tersebut sekaligus menjadi refleksi bagi para santri dan wali santri agar tidak hanya mengejar hasil pendidikan secara material, tetapi juga menanamkan kecintaan terhadap ilmu, ulama, dan nilai-nilai keagamaan.
Perjalanan Yayasan Bahrul Huda selama 21 tahun, kata K.H. Fathul Huda, juga tidak berlangsung secara instan.
Ia mengungkapkan, cikal bakal lembaga tersebut bermula dari pembelian lahan sekitar 300 meter persegi di wilayah Latsari. Lahan tersebut kemudian dimanfaatkan untuk membangun Taman Kanak-Kanak (TK).
Niat awalnya sederhana, yakni membantu masyarakat, khususnya mereka yang kurang mampu, agar tetap dapat memperoleh pendidikan.
“Awalnya hanya membeli tanah 300 meter persegi untuk membangun TK. Niatnya membantu masyarakat yang kurang mampu mendapatkan pendidikan,” jelasnya.
Dari lahan yang terbatas tersebut, lembaga pendidikan kemudian berkembang hingga memiliki berbagai jenjang pendidikan.
Bagi K.H. Fathul Huda, perkembangan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa sebuah ikhtiar yang diawali dengan niat membantu masyarakat dapat berkembang jauh lebih besar.
“Alhamdulillah, yang awalnya hanya 300 meter persegi sekarang berkembang jauh. Mangkane kudu yakin barokah niku,” tuturnya.
Tidak hanya berkembang dari sisi lembaga, Yayasan Bahrul Huda juga mencatat capaian dalam bidang pendidikan.
K.H. Fathul Huda menyebut sekitar 93 persen lulusan SMA melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi negeri.
Sejumlah perguruan tinggi yang disebut antara lain Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Universitas Airlangga, hingga Universitas Pertahanan.
Selain itu, sekitar 11 persen lulusan disebut memperoleh beasiswa berdasarkan prestasi.
Capaian tersebut menjadi bagian dari refleksi Harlah ke-21, bahwa pengembangan pendidikan tidak hanya berhenti pada pembangunan sarana dan bertambahnya jenjang sekolah, tetapi juga bagaimana para siswa memiliki kesempatan melanjutkan pendidikan ke tingkat yang lebih tinggi.
Dalam kesempatan tersebut, K.H. Fathul Huda juga menyampaikan kepada para wali santri mengenai penggunaan biaya pendidikan yang mereka berikan.
Ia menegaskan, dukungan wali santri diniatkan sebagai wakaf untuk pengembangan lembaga pendidikan.
“Yang njenengan bayar itu kami niatkan sebagai wakaf. Tidak ada yang masuk ke perut saya. Semuanya untuk pengembangan pendidikan,” tegasnya.
(Red/Ron)














