Oleh: Tim Pengabdian PMM BIMA 2026
Hanim Nur Faizah, S.Kep.,Ns.,M.Kep. (Ketua),
Suhartono, S.Kep.,Ns.,M.Kep. (Anggota 1) dan Sugiyono, S.Pd.,MM. (Anggota 2)
Tuban – Tuntutan kurikulum ganda yang padat seringkali menjadi pemicu stres akademik bagi santri pondok pesantren. Merespons tantangan tersebut, tim dosen dari Institut Ilmu Kesehatan Nahdlatul Ulama (IIKNU) Tuban meluncurkan terobosan inovatif berupa program “Pojok Curhat Literasi” di Pesantren Hidayatush Sholihin, Kabupaten Tuban. Program ini merupakan bentuk nyata implementasi dari Hibah BIMA Program Pengabdian Masyarakat tahun pendanaan 2026.
Program pemberdayaan masyarakat ini diketuai oleh Hanim Nur Faizah, S.Kep., Ns., M.Kep., dengan didampingi oleh anggota tim Suhartono, S.Kep., Ns., M.Kep., dan Sugiyono, S.Pd., MM. Menurut tim pelaksana, rutinitas pendidikan formal dan kepesantrenan yang berlangsung dari dini hari hingga larut malam kerap memicu keletihan emosional (burnout) pada santri remaja berusia 13-18 tahun.
Baca Juga:
Kondisi ini semakin mendesak untuk ditangani mengingat minimnya fasilitas ruang aman (Safe Zone) bagi santri untuk berekspresi secara positif di lingkungan asrama.
Sebagai solusi yang komprehensif, tim pengabdian menginisiasi sebuah ruang aman yang didesain secara khusus menggunakan pendekatan psikologi lingkungan. Ruang ini dilengkapi dengan karpet estetik, pencahayaan warm white yang menenangkan, serta kotak saran ‘Suara Hati’ bergembok ganda untuk menjamin privasi.
“Inovasi E-Screening ESSA-16 berbasis QR-Code juga diterapkan agar pengurus pondok dapat memetakan tingkat stres santri secara real-time namun tetap rahasia,” ungkap laporan tim pelaksana.
Tidak hanya menyediakan fasilitas fisik, tim juga melatih dan memberdayakan 30 santri senior untuk menjadi Konselor Sebaya. Mereka dibekali berbagai keterampilan krusial, seperti komunikasi terapeutik, Psychological First Aid (PFA), serta metode Expressive Writing (Menulis Ekspresif) guna memberikan pertolongan pertama psikologis bagi rekan-rekan santri yang membutuhkan teman berbagi.
Menariknya, lebih dari sekadar intervensi kesehatan mental, program ini turut dirancang sebagai motor penggerak kemandirian ekonomi. Dalam hal ini, tim pengabdian menggandeng BUMDes Beji untuk memproduksi karya inovasi sosial bertajuk “Soul-Care Kit”.
Paket hampers kesehatan mental premium ini berisi lilin aromaterapi, pena, stiker emoji dan Logbook Literasi Emosi yang prestisius karena telah terdaftar Hak Kekayaan Intelektual (HKI)
Ratusan produk inovatif tersebut kini siap dipasarkan secara luas melalui platform e-commerce seperti Shopee dan didukung kampanye media sosial edukatif.
Dengan progres pelaksanaan yang telah melampaui 75%, program terpadu ini ditargetkan mampu menurunkan angka stres akademik santri sebesar 20-30%, sekaligus membuka sumber pendapatan (revenue stream) baru yang berkelanjutan bagi pihak pesantren dan masyarakat desa sekitar.
Kesuksesan program yang membawa dampak positif ganda ini tentunya tidak lepas dari dukungan penuh pihak pemerintah.
Seluruh tim pelaksana dan mitra yang terlibat mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada pemberi dana Yaitu Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Republik Indonesia yang telah memberikan pendanaan dan dukungan nyata bagi terlaksananya program pengabdian kepada masyarakat tahun pendanaan 2026 ini.
Semoga sinergi semacam ini terus berkelanjutan dan memberikan manfaat yang luas bagi peningkatan kualitas hidup santri serta kemandirian ekonomi masyarakat. (*)














