Tuban, berandaonline.id – Dari mana listrik yang digunakan sehari-hari berasal? Pertanyaan sederhana itu membawa peserta sekolah jurnalistik mengenal lebih dekat proses pembangkitan listrik di PLN Nusantara Power (NP) Unit Pembangkitan Tanjung Awar-Awar, Tuban.
Selama ini masyarakat lebih sering berinteraksi dengan listrik saat menggunakannya. Lampu dinyalakan, handphone diisi daya, atau kipas angin digunakan. Di sisi lain, ada proses panjang sebelum energi tersebut dapat dimanfaatkan.
Gambaran mengenai proses itu dikenalkan kepada peserta sekolah jurnalistik yang digelae Ronggolawe Press Solidarity (RPS) di SMK Manbail Futuh, Rabu (30/9/2026).
Baca Juga:
Peserta mendapat penjelasan mengenai profil pembangkit, sistem kerja, budaya kerja, serta keselamatan kerja di lingkungan pembangkitan.
PLN NP Tanjung Awar-Awar memiliki kapasitas pembangkitan sebesar 2 x 350 megawatt (MW) atau total 700 MW. Listrik yang dihasilkan kemudian disalurkan melalui jaringan 150 kilovolt (kV) dalam sistem kelistrikan Ngimbang.
Namun, menjaga pembangkit dengan kapasitas besar tidak hanya mengandalkan mesin dan teknologi.
Asman SDM, Umum, dan CSR PLN NP Tanjung Awar-Awar, Awang Asmoro, mengatakan sumber daya manusia memiliki peran dalam mendukung operasional pembangkit.
“Selain teknologi, operasional pembangkit juga didukung sumber daya manusia (SDM) yang disiplin dan profesional,” ujar Awang.
Menurut Awang, budaya kerja menjadi bagian penting dalam menjaga keandalan operasional. Sejumlah kebiasaan seperti disiplin, tanggung jawab, integritas, kerja sama, dan profesionalisme diterapkan dalam aktivitas pekerja.
Begitu pula dengan keselamatan kerja. Pekerja diwajibkan menggunakan alat pelindung diri (APD), mematuhi aturan dan rambu-rambu di area kerja, serta memperhatikan kondisi lingkungan sekitar.
Penjelasan tersebut memberi peserta gambaran bahwa listrik yang digunakan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan proses produksi energi. Ada sistem, teknologi, SDM, dan prosedur keselamatan yang berjalan bersamaan.
Kunjungan tersebut pun menjadi pengalaman tambahan bagi peserta sekolah jurnalistik. Mereka tidak hanya belajar bagaimana sebuah informasi dapat ditulis menjadi berita, tetapi juga melihat langsung salah satu bagian dari sistem penyediaan energi listrik.
“Karena listrik itu menjadi kebutuhan kita. Berbagai alat yang kita gunakan, seperti kipas angin, handphone, dan peralatan lainnya membutuhkan listrik,” kata Awang.
(red/ron)














