Tuban, berandaonline.id – Menanam pohon tidak cukup jika setelah itu dibiarkan begitu saja. Upaya memulihkan hutan dan lahan membutuhkan peran masyarakat untuk merawat, menjaga, hingga memastikan penghijauan benar-benar memberi manfaat bagi lingkungan dan kehidupan warga.
Pesan itu disampaikan Anggota Komisi IV DPR RI Eko Wahyudi dalam kegiatan Bimbingan Teknis dan Sosialisasi Peningkatan Peran Serta Masyarakat dalam Upaya Pemulihan Daya Dukung Daerah Aliran Sungai (DAS) melalui Rehabilitasi Hutan dan Lahan.
Kegiatan tersebut digelar bersama Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Solo di salah satu tempat pertemuan di Desa Boto, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Kamis (20/8/2026).
Baca Juga:
Kegiatan diikuti kelompok tani hutan penerima program aspirasi Kebun Bibit Rakyat (KBR) dan bibit produktif atau Bitpro, serta sejumlah pihak yang memiliki perhatian terhadap pelestarian lingkungan dan rehabilitasi hutan serta lahan.
Dalam kegiatan tersebut, masyarakat diberikan pemahaman mengenai pentingnya menjaga kelestarian hutan, meningkatkan tutupan lahan, hingga mengelola lingkungan secara berkelanjutan.
Eko Wahyudi menegaskan, keberhasilan rehabilitasi hutan dan lahan tidak bisa hanya bergantung pada program pemerintah. Keterlibatan masyarakat menjadi salah satu kunci agar upaya pemulihan DAS tidak berhenti pada kegiatan penanaman.
“Tentu saja rehabilitasi hutan dan lahan bukan hanya tanggung jawab pemerintah. Masyarakat memiliki peran yang sangat penting, mulai dari menjaga tanaman yang sudah ditanam, melakukan penghijauan, hingga memastikan lingkungan di sekitar tempat tinggal tetap terjaga,” ujar Eko Wahyudi.
Menurut Anggota DPR RI Fraksi Partai Golkar tersebut, masyarakat harus ditempatkan sebagai pelaku utama dalam menjaga lingkungan.
Dengan keterlibatan langsung warga, tanaman hasil rehabilitasi diharapkan tidak hanya ditanam sebagai bagian dari program, tetapi juga dirawat hingga memberikan manfaat jangka panjang.
Eko menjelaskan, kondisi daerah aliran sungai memiliki hubungan langsung dengan kehidupan masyarakat.
Kerusakan hutan dan lahan dapat memicu berbagai persoalan lingkungan, mulai dari meningkatnya risiko erosi, banjir, kekeringan hingga menurunnya produktivitas lahan pertanian.
Karena itu, kegiatan bimbingan teknis dan sosialisasi dinilai penting untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai manfaat rehabilitasi hutan dan lahan.
“Yang kita harapkan bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi ada tindak lanjut nyata di lapangan. Masyarakat bisa menjadi pelaku utama dalam menjaga lingkungan, sehingga manfaatnya dapat dirasakan dalam jangka panjang,” jelas Eko, anggota DPR RI Dapil Jawa Timur IX Tuban-Bojonegoro.
Melalui kegiatan tersebut, kelompok tani hutan dan masyarakat juga didorong untuk menjaga tanaman hasil rehabilitasi, melakukan penghijauan, serta memanfaatkan lahan secara produktif tanpa mengabaikan aspek kelestarian lingkungan.
(Red/Ron)














