Yogyakarta, berandaonline.id – Kepercayaan publik terhadap pers kini menjadi tantangan serius di tengah derasnya arus informasi media sosial. Mengacu pada riset Reuters Institute, tingkat kepercayaan masyarakat terhadap pers disebut tinggal 33 persen.
Kondisi ini diungkap perwakilan Ronggolawe Press Solidarity (RPS) Tuban, Teguh Budi Utomo, dalam Workshop Relasi Media Tahun 2026 Pemkab Tuban bersama wartawan di Yogyakarta, Kamis (29/10/2026).
“Celakanya info di media sosial justru sering dipercaya oleh netizen. Padahal di medsos tidak ada ruang verifikasi info seperti yang dijalankan pada kinerja jurnalistik,” jelas Teguh.
Baca Juga:
Di sisi lain, Teguh mengapresiasi Dinas Kominfo-SP Tuban yang dinilai intensif merespons konfirmasi wartawan selama kepemimpinan Mas Lindra. Menurutnya, hal tersebut menjadi sisi positif, terutama ketika konfirmasi kepada Bupati maupun Sekretaris Daerah (Sekda) Tuban belum mendapatkan jawaban.
Untuk memperkuat hubungan pemerintah daerah dan media, Teguh berharap ke depan ada agenda konferensi pers tematis. Dia juga mengusulkan pembagian program dinas dalam bentuk peta jalan (roadmap) selama satu tahun yang disampaikan kepada media secara rutin setiap bulan.
Sementara itu, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Tuban, Suwandi, menyampaikan terima kasih sekaligus apresiasi atas program tahunan yang diselenggarakan Dinas Kominfo-SP Tuban tersebut.
Namun, di balik apresiasi itu, dia mengaku merasa sedih karena Kepala Dinas Kominfo-SP Tuban, Arif Handoyo, sebentar lagi memasuki masa pensiun.
Menurut Wandi, selama memimpin Kominfo-SP Tuban, Arif merupakan sosok tangguh dalam membangun komunikasi dengan media. Dia berharap, sinergi yang selama ini terjalin dapat terus dilanjutkan oleh pejabat pengganti.
“Yang tak kalah penting juga selalu memprioritaskan kue iklan bagi media. Sebab, iklan merupakan salah satu nadi kehidupan keberlanjutan media di Tuban,” katanya.
Wandi juga berpesan agar sinergi pemberitaan antara Pemkab Tuban dan media tetap dijaga. Dia mencontohkan, distribusi rilis resmi Pemkab Tuban yang sebelumnya dikirim pada malam hari kini telah mengalami perubahan menjadi sore hari.
Selain itu, Dinas Kominfo-SP diharapkan dapat mendorong organisasi perangkat daerah (OPD) lain agar lebih intensif menyebarluaskan berbagai inovasi dan program pemerintah kepada masyarakat.
Menurutnya, kebijakan efisiensi memang menjadi salah satu hambatan. Namun, pola sinergi antara pemerintah daerah dan media tetap perlu disesuaikan agar penyebarluasan informasi berjalan optimal.
Menanggapi sejumlah masukan tersebut, Kepala Dinas Kominfo-SP Tuban, Arif Handoyo, membenarkan bahwa dirinya akan memasuki masa pensiun sekitar satu bulan lagi. Dia tercatat telah menjabat sebagai Kepala Dinas Kominfo-SP Tuban selama 5 tahun 8 bulan.
“Kami mohon maaf ketika untuk menjawab pertanyaan wartawan perlu beberapa jam, karena perlu menyelaraskan data dengan OPD yang lain,” beber pria kelahiran Salatiga.
Selama memimpin Dinas Kominfo-SP Tuban, Arif mengaku selalu menginginkan yang terbaik bagi media. Dia juga menegaskan pentingnya menjaga komunikasi yang baik sebagai bagian dari komitmen Pemkab Tuban dalam memberikan perhatian kepada insan pers.
“Ketidakpuasan tentu kami sadari, namun upaya terbaik ke media dengan memberikan perhatian telah dimaksimalkan,” bebernya.
Pada sesi Workshop Relasi Media Tahun 2026 juga menghadirkan Akhyari Hananto, pendiri platform media Good News From Indonesia (GNFI). Narasumber yang akrab disapa Arry tersebut membahas pentingnya adaptasi media di tengah perubahan algoritma digital dan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Arry mengungkapkan, salah satu tantangan media saat ini adalah semakin menjauhnya pembaca. Kondisi tersebut tidak lepas dari perubahan algoritma Google dan masifnya penggunaan AI yang turut mengubah pola masyarakat dalam mengakses informasi.
“Ketika traffic jadi ukuran, penurunannya terasa di pundak jurnalis,” kata Arry.
Menurutnya, pembaca kini memperoleh informasi dari berbagai sumber dan platform, mulai dari grup WhatsApp (WA), TikTok, Instagram, televisi, hingga kanal digital lainnya.
Di Indonesia, distribusi berita semakin bergeser melalui platform digital. Data yang disampaikan Arry menunjukkan, sebanyak 64 persen masyarakat mendapatkan berita dari media sosial, 56 persen menggunakan WhatsApp untuk mengakses berita, dan 43 persen memanfaatkan TikTok.
Perubahan tersebut menjadi tantangan tersendiri bagi media massa. Selain menjaga kualitas dan akurasi pemberitaan, media juga dituntut mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi serta perubahan kebiasaan masyarakat dalam mengonsumsi informasi. (red/ron)














