Bojonegoro, berandaonline.id – Kekeringan akibat dampak kemarau panjang di wilayah Kabupaten Bojonegoro, terus meluas. Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) setempat, tercatat hingga Rabu, 09 September 2026 ada ribuan jiwa tersebar di 60 Desa, dari 18 Kecamatan mengalami krisis air bersih.
Kondisi tersebut, salah satunya menimpa warga Dusun Doro, Desa Sumberharjo, Kecamatan Sumberrejo. Di wilayah ini, kekeringan sudah berlangsung sejak Juli lalu.
Untuk mencukupi kebutuhan air sehari-hari, warga hanya mengandalkan bantuan droping air bersih, yang didistribusikan pemerintah daerah maupun relawan. Hal ini karena sumber air maupun sumur yang ada di desa setempat, telah lama mengering akibat dampak kemarau panjang.
Baca Juga:
Mengantisipasi agar dampak kekeringan tidak semakin parah. Ketua Komisi B DPRD Bojonegoro, Sally Atyasasmi dari Fraksi Partai Gerindra, Terjun langsung ke lokasi. Dibantu sejumlah relawan, ia mendistribusikan langsung 3 truk tanki masing-masing berkapasitas 6 ribu liter air bersih untuk warga Dusun Doro, Desa Sumberharjo, Rabu (09/09/2026).
“Droping ini kita berikan untuk warga Dusun Doro yang telah lama kesulitan air, totalnya ada tiga tanki, termasuk tempat penampungan sebagai tendon air,” kata Sally.
Menurutnya, pasokan air bersih merupakan kebutuhan mendesak bagi warga untuk menjalankan aktifitas sehari-hari selama musim kemarau.
Penyaluran air bersih diprioritaskan pada kawasan yang mengalami tingkat kekeringan paling parah agar bantuan tepat sasaran dan berkelanjutan. Setiap desa dilakukan pendistribusian air sebanyak 2 sampai 3 tanki per hari.
”Ini dalam rangka melayani masyarakat yang mengalami kekurangan air. Kegiatan ini akan terus berjalan dan disiagakan selama musim kemarau. Tidak hanya di Desa Sumberharjo, kegiatan serupa juga kita lakukan ke desa-desa lain secara bergiliran,” ujarnya.
Bantuan air bersih ini disambut gembira para penerima manfaat yang telah kesulitan mendapatkan air sejak lama. Warga mengaku senang dan bersyukur, air yang didapat akan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kebutuhan pokok sehari-hari, seperti mandi, memasak, dan mencuci pakaian.
“Air sudah susah sekali sejak Juli lalu Pak, sumur sudah kering semua. Jika tidak ada bantuan droping seperti ini, kita terpaksa nggak mandi. Sebab, kalau harus cari air sendiri, jaraknya sangat jauh ke desa sebelah, dan itupun kadang harus antri,” ujar Sutaji (51) warga Dusun Doro.
Aksi tanggap darurat ini, akan terus dilakukan selama musim kemarau. Harapannya, dapat meringankan beban masyarakat untuk mencukupi kebutuhan air sehari-hari. (sum/ron)














