Tuban, berandaonline – Semangat perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Senori, Kabupaten Tuban menghadirkan nuansa berbeda.
Kolaborasi antara Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Senori dan Omah Baca Santri dalam helatan “Tadarus Puisi” sukses mengubah ruang publik menjadi panggung literasi yang inklusif dan reflektif pada Senin (17/08/2026).
Mengusung tema “Putra Bangsa Bebas Merdeka”, kegiatan ini berhasil mendobrak sekat eksklusivitas sastra. Di sepanjang gelaran, warga yang melintas di sekitar lokasi tak ragu untuk berhenti sejenak, melebur bersama para pegiat literasi, serta menyuarakan kegelisahan dan harapan mereka melalui bait-bait puisi.
Baca Juga:
Fenomena tersebut sekaligus menyingkap fakta bahwa akar literasi di masyarakat pedesaan sesungguhnya tumbuh subur dan hanya memerlukan wadah untuk bersemi.
“Sastrawan desa ternyata banyak sekali. Kami melihat antusiasme yang luar biasa dari masyarakat yang lalu lalang, mereka mampir dengan penuh antusias untuk membacakan puisi,” ujar salah satu panitia penyelenggara.
Pendiri Omah Baca Santri, Muhamad Ulil Arham, memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif yang dinilai mampu membumikan sastra tersebut. Menurutnya, keterlibatan aktif audiens turut menambah kedalaman perspektif dalam acara ini.
“Kegiatan ini sangat inspiratif karena mampu membawa sastra keluar dari ruang-ruang eksklusif dan menyapa masyarakat secara langsung. Melihat warga yang spontan mampir untuk ikut membacakan puisi membuktikan bahwa kecintaan terhadap literasi di desa sangatlah besar,” ungkap Ulil Arham.
Ia menambahkan, melalui kegiatan “Tadarus Puisi”, seluruh elemen masyarakat diingatkan kembali bahwa kemerdekaan merupakan amanah yang harus terus dijaga dan dimaknai dengan tindakan nyata.
Puncak keheningan dan perenungan terjadi saat Gus Muiz tampil ke atas panggung. Ia membacakan karya terbarunya yang berjudul “Siapakah Aku”. Puisi tersebut berhasil memukau sekaligus mengajak para hadirin melakukan dialektika batin.
Sesuai dengan narasi besar acara bahwa “Puisi adalah do’a, kemerdekaan adalah amanah”, pembacaan karya tersebut menjadi penutup yang reflektif sekaligus peneguh semangat kebangsaan bagi seluruh peserta yang hadir.
Melalui suksesnya acara ini, penyelenggara berharap kegiatan serupa dapat menjadi tonggak awal bagi generasi muda di Senori untuk terus merawat tradisi intelektual, memperkuat budaya baca-tulis, serta memaknai arti kemerdekaan melalui ekspresi seni yang bermartabat. (*)














