Jombang, berandaonline.id – Di tengah tantangan dunia pendidikan yang semakin kompetitif, pesantren kini diharapkan tidak hanya melahirkan santri yang cerdas dan berakhlak, tetapi juga generasi yang mampu menjadi pelopor perubahan lingkungan dan ekonomi kreatif berbasis keberlanjutan di tengah masyarakat.
Hal tersebut menjadi dedikasi PP Bahrul Ulum Tambakberas Jombang untuk Indonesia ramah lingkungan, lewat program ECO Pesantren melalui penguatan Khalifah Green Behavior.
ECO Pesantren dirancang sebagai sebuah program pendidikan lingkungan yang terstruktur, terukur, dan berkelanjutan. Program ini tidak berhenti pada kegiatan kebersihan atau penghijauan semata, tetapi dirancang melalui kurikulum dan modul pembelajaran yang mengintegrasikan nilai-nilai keislaman, kesadaran ekologis, perubahan perilaku, serta pengembangan ekonomi kreatif berbasis lingkungan.
Baca Juga:
DR. KH. M. Hasib Wahab Chasbullah sebagai Majlis Pengasuh PP Bahrul Ulum Tambakberas Jombang menyampaikan
“Eco Pesantren ini sebagai amanah yang tidak bisa ditolak karena dalam rangka mengimpelemntasikan hadits النظافة من الإيمان)”
Evi Fatimatur Rusydiyah sebagai Dewan Pakar Eco Pesantren menambahkan melalui kurikulum dan modul ECO Pesantren, santri akan mendapatkan pengalaman belajar yang mendorong mereka memahami hubungan antara manusia, alam, dan keberlanjutan. Pendidikan lingkungan diarahkan tidak hanya untuk menambah pengetahuan, tetapi membangun kesadaran ekologis (ecological awareness) yang kemudian diwujudkan dalam perilaku nyata.
Dengan pendekatan Khalifah Green Behavior, perubahan yang diharapkan bukan sekadar “tahu tentang lingkungan”, tetapi mau, mampu, dan terbiasa melakukan tindakan yang ramah lingkungan, begitu tambahnya.
Salah satu kekuatan program ECO Pesantren adalah memberikan ruang kepada santri untuk mengembangkan perilaku ekonomi kreatif melalui pemanfaatan sampah.
Selain itu, Nur Fitriyatin Yamin sebagai Dewan Pakar Eco Pesantren menambahkan santri tidak hanya diajak untuk melihat sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang, tetapi sebagai material yang masih memiliki nilai dan potensi untuk diolah.
“Melalui kegiatan kreatif dan produktif, santri dapat belajar mengidentifikasi, memilah, mengolah, menciptakan produk, hingga memahami nilai ekonomi dari material yang sebelumnya dianggap tidak berguna,” katanya.
Pendekatan ini diharapkan membangun dua kesadaran sekaligus: kesadaran ekologis dan kesadaran kewirausahaan.
Untuk memastikan program berjalan secara sistematis, ECO Pesantren dikembangkan melalui perangkat pembelajaran yang mencakup kurikulum, modul, aktivitas pembelajaran, praktik lapangan, serta instrumen pengukuran keberhasilan. Demikian kata Evi menambahkan
Menurut Dr. Arif Mansyuri, S.Pd.I, M.Pd sebagai dewan pakar bahwa pengukuran tidak hanya melihat aspek pengetahuan santri, tetapi juga perkembangan kesadaran ekologis, perubahan perilaku, keterampilan pengelolaan lingkungan, kreativitas, serta kemampuan menghasilkan nilai ekonomi dari pemanfaatan sumber daya yang tersedia.
Dengan pendekatan tersebut, ECO Pesantren diarahkan menjadi sebuah model pendidikan lingkungan berbasis pesantren yang dapat dipantau perkembangannya, dievaluasi, dan terus disempurnakan. (red/ron)














